PERJALANAN ~ Pendakian Gunung Arjuna

PERJALANAN ~ Pendakian Gunung Arjuna

Perjalanan Gunung Arjuna

Regu GH 2 Pendidikan Lanjutan AM XXIV
Atlas Medical Pioneer

11-15 Juli 2019

 

Kamis, 11 Juli 2019

Tidak terasa hari itu tiba, setelah menyiapkan segala perbekalan perjalanan dari beberapa hari sebelumnya, Regu Perjalanan Gunung Arjuno siap memulai hari pertama ROP perjalanan. Kamis, 11 Juli 2019 pukul 15.00, kami berkumpul di Rumah Gezira di jalan diponegoro untuk melakukan briefing dan berangkat menuju Stasiun Bandung. Kereta kami berangkat ke Lawang pukul 16.50 WIB dan akan sampai pukul 9.30 esok hari.

 

Jumat, 12 Juli 2019

Kami tiba di stasiun Lawang sedikit lebih cepat dari perkiraan. Cak Narto, supir kami, sudah menunggu di parkiran stasiun sesuai kesepakatan penjemputan. Dari stasiun, kami langsung berpencar menjadi tiga tim untuk mengurus izin ke Puskesmas, Polsek dan berbelanja kebutuhan bivoac basah untuk pendakian besok. Tim pertama, Nobel dan Gezira, menuju Puskesmas Lawang, tim kedua, Wintoro dan William, menuju Polsek Lawang, dan tim ketiga, Anggun, Amanda, dan Mega menuju ke Pasar Lawang. Setelah melaksanakan kegiatan masing-masing, kami berkumpul di Pasar Lawang lalu berangkat menuju Kantor Desa Wonorejo untuk mengurus izin melakukan penelitian. Di kantor desa, kami memindahkan logistik dari mobil ke suatu ruangan atas izin Pak Selamat, penjaga Gedung Kantor Desa, yang selanjutkan akan dipakai sebagai tempat penyusunan logistik pendakian. Kegiatan terpaksa berubah, karena di hari sebelumnya, Mba Tarni, Koordinator Kader, mengabarkan bahwa kegiatan penelitian kami bertabrakan dengan pengajian rutin dilakukan oleh masyarakat Desa Wonorejo di watu yang sama. Tak habis pikir, kami pun medahulukan kegiatan-kegiatan setelah penelitian seperti, kalibrasi, dan membuat penyusunan bivoac. Ketiga kegiatan tersebut berlangsung simultan, sehingga kami kembali membagi tim, untuk mengurus perizinan penelitian di rumah ketua kader oleh tim Gezira dan Amanda, untuk mempersiapkan logistik bivoac basah oleh tim kedua, Mega dan Anggun, di salah satu rumah warga, dan untuk melakukan kalibrasi di titik kalibrasi oleh  Nobel, Wintoro, William, dan Kang Haqasya. Perizinan berlangsung cepat, sehingga tim masak dengan segera mendapat bantuan menyiapkan logistik pendakian, sembari menunggu tim kalibrasi selesai. Waktu makan siang tiba, Kami memakan makanan yang tadi dibeli oleh tim belanja bivoac di pasar lawang. Menu makan siang bisa dibilang komplit, terdiri dari : semur daging, orek tempe, mie dan banyak lagi. Tak lupa kami melaksanakan sholat setelah mendengar adzan berkumandang. Setelah ishoma, kami melanjutkan penyusunan logistik bivoac dilanjutkan ke penyusunan logistik regu. Logistik pendakian telah selesai disusun, kami mempersiapkan logistik penelitian dan dilanjutkan dengan briefing penelitian yang oleh Amanda. Saat waktunya tiba, kami bersiap-siap untuk menuju posyandu Desa Wonorejo. Di posyandu tersebut sudah berkumpul tiga ibu kader lainnya dan juga beberapa ibu-ibu dengan balitanya yang akan membantu penelitian. Kami pun memulai penelitian dengan masing-masing dari kami menghampiri masing-masing ibu. Saat penelitian berlangsung, ibu-ibu baru terus berdatangan hingga kami mendapat 21 responden. Karena target sampel adalah 49 orang, kami melanjutkan  penelitian dengan metode door to door dimana kami dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok ditemani oleh satu ibu kader. Masing-masing kelompok memiliki target tujuh responden selama door to door tersebut. Pukul 17.15, kami berkumpul lagi di posyandu kemudian kami memberikan plakat sebagai kenang-kenangan dan juga oleh-oleh sebagai tanda terima kasih terutama kepada ibu-ibu kader yang sangat membantu kelancaran kegiatan penelitian tersebut. Setelah penelitian selesai, kami berjalan menuju kantor desa untuk mengambil logistik dan langsung menaiki mobil Cak Narto menuju Basecamp Pendakian Arjuna. Setelah melakukan perizinan pendakian kami menuju ke rumah warga untuk menginap. Disana, kami disambut oleh pemilik rumah dan dibuatkan rawon untuk makan malam. Setelah itu, kami melakukan evaluasi dan tidur. Dinginnya Malang sudah terasa dari malam ini!

 

Sabtu, 13 Juli 2019

            Tepat pukul 04.00, kami bangun. Tentunya udara dingin tidak membuat kami bermalas-malasan, kami tetap semangat bersiap-siap menjalani hari ini. Tidak lupa kami memakan sarapan yang telah dimasak oleh Emak sebelum memulai hari. Sup dan teh hangat sangat pas untuk pagi itu, menghangatkan tubuh dari dinginnya angin yang bertiup kencang. Setelah Cak Narto tiba di rumah Emak, kami langsung berangkat menuju BRAK 2 menggunakan mobil elf. Perjalanan ke BRAK 2 memakan waktu 30 menit, karena jalannya berbatu sehingga Cak Narto harus berkendara dengan pelan dan berhati-hati. Pemandangan di perjalanan itu sangat indah, dari jendela mobil terlihat hamparan kebun teh yang sangat luas, Gunung Semeru, dan Gunung Arjuna yang akan kami daki. Matahari mulai menampakan dirinya malu-malu, dan langit pun berubah menjadi keungunan. Indah sekali! Di perjalanan menuju BRAK 2, kami turun di tengah jalan untuk melakukan dokumentasi perempatan yang dilalui, kemudian naik kembali. Ternyata mobil tidak bisa benar-benar berhenti di BRAK 2, karena akan sulit untuk memutar balik apabila berhenti di sana. Sehingga kami turun di pos putih dekat dengan BRAK 2, jaraknya hanya sekitar 200 meter. Saat keluar dari mobil, udara terasa segar sekali, membuat kami menjadi lebih bersemangat. Kami berjalan ke BRAK 2 yang merupakan titik start kami. Di sana, kami langsung melakukan orientasi medan dan reseksi, setelah yakin titik tersebut merupakan titik start, kami melakukan pemanasan dan langsung menuju ke pos 2A. Perjalanan dari titik start ke pos 2A ini melalui sabana. Belum ada satu orang pun dari kami, kecuali kang Haqasya, yang pernah melihat sabana. Sehingga kami semua di sana sangat terpana oleh indahnya sabana. Dataran luas yang penuh dengan ilalang itu ternyata sangat indah! Kami juga menyempatkan berfoto dulu di antara ilalang tersebut dengan latar Gunung Arjuna. Sampailah kami di pos 2A, dan melakukan kegiatan operasi. Kami melanjutkan perjalanan ke pos 2B kemudian ke pos 2C. Di pos 2B dan 2C anginnya terasa sangat kencang dan segar, sedikit membuat kami kedinginan. Di sana, kami dapat melihat sabana dari dataran yang sedikit lebih tinggi. Luar biasa bagusnya pemandangan di sana. Kami merasa sangat kecil dibandingkan dengan luasnya sabana yang kami lihat. Dari pos 2C, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Di perjalanan menuju ke pos 5, kami melakukan bivoac siang 1. Bivoac siang kali ini kami memasak ayam teriyaki dan tumis sayuran, cukup untuk mengisi perut kami yang sudah sedikit merasa lapar. Setelah bivoac siang, kami melanjutkan perjalanan ke pos 5, kemudian ke pos 6. Di pos 6, kami melakukan bivoac malam. Udara di sore itu sangat dingin! Kami sudah mulai menggigil namun berusaha untuk tidak dulu menggunakan jaket agar tubuh kami beradaptasi dahulu. Setelah membangun tenda dan flysheet, beberapa dari kami membuat api unggun dan juga memasak makan malam. Setelah api hidup, udara dingin pun sudah tidak terasa lagi. Ditambah dengan makan malam tomyum, rendang, dan minuman hangat, tubuh kami sudah merasa cukup hangat. Setelah selesai bivoac malam, kami melakukan evaluasi kemudian menyiapkan logistik untuk summit attack. Setelah selesai, kami semua tidur kecuali beberapa orang yang bergantian menjaga api unggun. Di malam itu, banyak pelari yang datang sekadar untuk ikut berhangat ataupun meminta air.

 

Minggu, 14 Juli 2019

Setelah tidur cukup, pukul 2.00 dini hari kami bangun, dan bersiap siap untuk summit attack. Malam itu terasa tidak terlalu gelap karena disinari oleh terangnya bulan purnama. Kami mendaki menuju pos 7, perjalanannya belum begitu curam. Dari pos 7 menuju ke pos 8, perjalanannya mulai curam. Perjalanan dini hari itu kami ditemani oleh pemandangan lampu-lampu Kota Malang yang amat indah dan juga bintang-bintang yang berkelap-kelip sehingga tidak bosan-bosannya kami melihat ke atas untuk sekadar menatap indahnya bintang-bintang itu yang jarang terlihat di langit malam perkotaan. Di perjalanan pos 8 menuju ke puncak, langit mulai berubah warna menjadi ke-oranye-an. Angin terasa lebih kencang dari sebelumnya. Sungguh semuanya terasa sangat menyenangkan! Saat sudah mendekati puncak, terdapat banyak tumbuhan-tumbuhan indah yang hanya tumbuh di atas ketinggian tertentu. Di atas dari itu, terlihat batu-batu besar yang merupakan puncak Gunung Arjuna. Kami pun semakin semangat untuk menuju ke puncak tersebut. Dan akhirnya kami sampai di puncaknya tepat ketika matahari muncul. Kami menikmati pemandangan di atas sana, dan juga melakukan kegiatan operasi kemudian turun sedikit untuk mendapatkan dataran yang cukup luas untuk melakukan bivoac dan memasak snack pagi. Kami membangun flysheet untuk menahan angin agar tidak terlalu dingin. Setelah cukup terisi oleh snack pagi, kami berfoto bersama di Puncak Arjuna. Sayang sekali alokasi waktu untuk menikmati Puncak Arjuna tidak lama, sehingga kami berhenti sebelum puas berfoto-foto. Kami pun langsung menuruni Gunung Arjuna bersama dengan pelari-pelari yang sedang mengikuti lomba trail running disana. Lomba ini memiliki cakupan internasional, sehingga peserta dari berbagai penjuru dunia mengikuti lomba ini. Lomba ini diikuti oleh sekitar 2000 orang. Perjalanan turun ini terasa lebih jauh dari saat naik. Namun akhirnya pun kami sampai di tempat bivoac malam walaupun melebihi waktu seharusnya. Kami melakukan bivoac pagi namun lebih terasa seperti brunch. Setelah kenyang, kami mulai meruntuhkan tenda dan mem-packing logistik masing-masing. Setelah semua bersih dan dipastikan tidak ada yang tertinggal, kami berjalan turun menuju ke pos 5, kemudian ke pos 2c melalui pos asli Mahapena. Dari pos 2c, kami melihat sabana luas yang kemarin kami lalui, namun rasanya pemandangannya lebih indah saat jalan naik daripada saat turun. Perjalanan dari pos 2c ke pos 2a terasa sangat jauh dan sangat lama. Di pos 2a ini kami istirahat dan beberapa dari kami shalat terlebih dahulu. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke titik start sembari menghubungi Cak Narto yang akan menjemput kami. Namun ternyata setelah sampai di pos putih, mobil belum sampai sehingga kami memutuskan untuk melakukan bivoac siang di pos putih tersebut. Setelah kami melakukan bivoac siang, pak supir datang tanpa mobilnya dan meminta bantuan. Ternyata mobilnya masuk ke selokan kira-kira 100 meter dari pos putih. Di sana, kami dan juga banyak pelari membantu pak supir mengembalikan mobilnya ke jalanan. Akhirnya kami pun berhasil dan kami bisa kembali ke rumah Emak. Di rumah Emak kami melakukan evaluasi sambil menunggu mobil yang akan digunakan untuk perjalanan menuju Malang. Saat evaluasi, kami disuguhkan teh manis hangat oleh Emak. Setelah kami selesai evaluasi, kami langsung memasukan seluruh logistik ke dalam mobil dan berangkat ke Malang. Kami turun dulu sebentar di basecamp untuk melapor bahwa kami telah selesai melakukan pendakian. Di perjalanan menuju Malang, kami semua tertidur karena lelah. Sesampainya di Malang, kami menurunkan barang-barang dan check in. Ternyata, ada masalah dimana kamar yang terbooking hanya satu, sedangkan awalnya kami membooking 2 kamar, namun sekarang sisanya sudah penuh semua. Akhirnya, kami mencari hotel di sekitar sana yang masih terdapat kamar kosong, dan akhirnya dapat di Hotel Pelangi. Setelah membersihkan diri, kami merebahkan tubuh dan kami semua beristirahat dengan nyaman.

 

Senin, 15 Juli 2019

Tidur malam ini terasa sangat nyaman dan memanjakan tubuh setelah pendakian kemarin. Kami bangun di pagi hari menuju siang, kemudian sarapan di hotel. Dengan lahap kami memakan segala makanan yang tersedia disana, tentu saja kami tidak akan menyia-nyiakan makanan disana. Setelah sarapan, kami kembali ke kamar dan membersihkan diri sekaligus packing untuk pulang. Setelah siap, kami menitipkan barang di lobby dan pergi jalan-jalan. Satu hari ini harus kami manfaatkan dengan baik! Kami berjalan-jalan ke toko oleh-oleh pia mangkok yang berada di Jalan Semeru, kemudian makan siang di Rawon Nguling dan Bakso Presiden. Kedua tempat tersebut sangat ramai. Pada pukul 14.00, kami kembali ke hotel untuk bersiap berangkat ke stasiun. Sesampainya di stasiun, kami langsung masuk ke kereta.

Terimakasih AMP, telah memberi kami pengalaman yang sangat berharga ini, semoga persaudaraan yang dibangun dari semua kegiatan ini tidak hilang sampai tua.