• Penulis: Nathanael Kurniadi (AM 25049)
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma (AMP 2418019 NW)

www.instagram.com/p/CJ3WI3tAcTq/

Olahraga merupakan suatu aktivitas yang tentunya tidak terdengar asing bagi kita.  Olahraga dapat memberi berbagai efek kesehatan dan kebugaran untuk kita semua, sehingga  olahraga juga seringkali menjadi suatu aktivitas yang disarankan untuk orang-orang dengan  penyakit jantung ataupun diabetes tipe II.1

Suatu olahraga harus mengikuti  pola yang konsisten untuk meningkatkan keamanan dan juga kenyamanan selama berolahraga, sehingga olahraga yang baik terdiri dari pemanasan, olahraga inti, dan pendinginan. Mungkin banyak orang yang tidak mementingkan pendinginan setelah berolahraga inti. Padahal, pendinginan dapat memberi dampak yang besar pula bagi tubuh kita.


Kenapa pendinginan itu penting?

Perlu diketahui bahwa pendinginan atau cooling down merupakan bagian dari olahraga yang dilakukan setelah melakukan suatu olahraga inti seperti berlari. Pendinginan dapat memberi tubuh waktu penyesuaian dari kondisi setelah berolahraga dengan beristirahat. Selain itu, waktu pendinginan juga dapat menjadi waktu yang tepat untuk  melakukan stretching yang dapat membantu meningkatkan fleksibilitas pula. Pada umumnya, pendinginan dilakukan dengan durasi 5 hingga 10 menit tergantung dari berat olahraga inti yang telah dilakukan sebelumnya.1  

Sebagai suatu komponen dari olahraga yang baik, pendinginan juga dapat memberi  dampak positif bagi tubuh. Pada intinya, pendinginan dapat membantu untuk mempercepat  pembuangan produk sampingan metabolik dari tubuh, mengurangi nyeri otot, dan  mengembalikan denyut nadi yang meningkat. Pada saat kita telah selesai berolahraga terutama  dengan intensitas yang berat, asam laktat dapat menumpuk pada otot-otot di tubuh kita dan  dengan melakukan pendinginan, kita dapat membantu tubuh kita untuk mempercepat  pembuangan dari asam laktat serta memperbolehkan otot untuk relaksasi.2

Melakukan pendinginan juga dapat membantu untuk meningkatkan aliran darah sehingga  nantinya darah tidak akan terkumpul pada otot-otot yang digunakan untuk beraktivitas dan  kembali ke jaringan lainnya. Apabila kita tidak melakukan pendinginan dan langsung berhenti  setelah selesai melakukan olahraga inti, otot-otot kita yang tadinya berkontraksi secara terus menerus akan langsung berhenti, menyebabkan darah akan terkumpul pada otot-otot tersebut  dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, penghentian olahraga tanpa adanya pendinginan  juga dapat menyebabkan denyut nadi tidak menurun secara perlahan pula, sehingga dalam jangka waktu yang panjang dapat memberi efek buruk kepada ritme jantung.2


Gerakan pendinginan?

Gerakan pendinginan biasanya meliputi gerakan stretching yang bersifat statis yang dapat dilakukan dengan urutan dari atas sampai bawah. Misalnya, pertama dapat dengan menekukkan kepala ke bawah, ke atas, dan menghadap ke kiri dan kanan. Lalu, kita dapat  lanjut ke bawah menuju bagian bahu dengan meletakkan lengan kita di sisi yang berlawanan  lalu menahan posisi tersebut ketika bahu pada lengan yang kita silangkan terasa tertarik. Kemudian, kita dapat turun ke bawah lagi menuju bagian kaki dengan melangkahkan salah  satu kaki ke depan lalu menurunkan tubuh hingga lutut kaki kita menekuk 90 derajat.1

Pada akhirnya, pendinginan sebenarnya merupakan suatu aktivitas yang memiliki  intensitas yang menurun secara perlahan. Walaupun tidak bersifat melelahkan, pendinginan  memiliki dampak yang besar pula untuk tubuh kita, terutama untuk membantu mengembalikan keseimbangan dan mengistirahatkan tubuh setelah tadinya berolahraga secara terus-menerus.  Ketika kita tidak melakukan pendinginan, tubuh juga dapat terpengaruh dan dapat menimbulkan efek negatif untuk kita pula meskipun kita tidak merasakannya secara langsung. Oleh karena itu, pendinginan tidak boleh dilupakan dan harus selalu dilakukan oleh kita semua ketika kita telah selesai berolahraga.


DAFTAR PUSTAKA

  1. Bushman, B. American College of Sports Medicine’s Complete Guide to Fitness and  Health. United States: Versa Press; 2017. p. 87.
  2. Ratamess, N. ACSM’s Foundations of Strength Training and Conditioning. United States: Wolters Kluwer Health; 2018. p. 189.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *