• Penulis: Hanif Jundana (AM 25028)
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma (AMP 2418019 NW)

Otot kaku?

Otot merupakan alat gerak tubuh yang paling utama. Tubuh dapat bergerak melalui kontraksi otot (pemendekan saat otot menegang) dan relaksasinya (pemanjangan saat otot beristirahat) dengan  keterikatan otot terhadap tulang.1 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat otot berkontraksi,  salah satunya adalah kelenturan otot itu sendiri. Otot yang lentur akan mudah untuk berkontraksi dan berelaksasi, sedangkan otot yang kaku akan kesulitan atau membutuhkan usaha yang lebih dalammelakukan kerjanya.2

Ketika otot menjadi kaku, otot akan membutuhkan gaya yang lebih besar agar dapat berkontraksi, namun gaya yang terlalu besar pada otot dapat berisiko menyebabkan otot terluka, dan yang paling parah adalah otot terputus.3 Tubuh akan kehilangan alat penggeraknya jika otot terputus.  Pada dasarnya otot berada dalam keadaan setengah lentur dan setengah kaku. Seiring bertambahnya usia atau ketika otot dalam kondisi kelelahan (akibat berolahraga atau aktivitas berat), otot akan  semakin kaku dan semakin sulit untuk bergerak bebas.4, 5


Latihan Fleksibilitas?

Otot yang mudah kaku tentu tidak diinginkan oleh atlet yang akan menjalani pertandingan yang panjang juga oleh orang yang sudah berumur namun tetap ingin beraktivitas dengan leluasa. Maka dari itu, ada konsep yang bernama latihan fleksibilitas. Fleksibilitas adalah penilaian terhadap kemampuan otot dan tendon (jaringan yang menghubungkan otot dan tulang) untuk memanjang.6

Prinsip latihan fleksibilitas adalah dilakukannya peregangan bagian tubuh pada  lapang gerak sendinya sampai setidaknya terasa sedikit tahanan atau sedikit rasa tidak nyaman.5 Peregangan ini dilakukan untuk meningkatkan lapang gerak sendi yang bisa dicapai agar otot lebih elastis. Ada dua proses yang bisa digunakan untuk melatih  fleksibilitas, yaitu proses adaptasi akut (penyesuaian jangka pendek) dan adaptasi kronik (penyesuaian jangka panjang).6

Prinsip adaptasi akut

Adaptasi akut adalah proses latihan fleksibilitas yang dilakukan sebelum kegiatan. Tujuan dari  adaptasi akut ini adalah untuk meningkatkan kelenturan otot dan sendi sebelum menjalani olahraga  yang berat. Contohnya seperti saat kita melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Disisi lain,  adaptasi kronik dilakukan untuk tujuan berkepanjangan dimana latihan tersebut dilakukan secara rutin dalam waktu yang lebih lama. Contoh latihan yang dilakukan oleh atlet gimnastik untuk mencapai  kelenturan tubuh, juga latihan yang dilakukan untuk rehabilitasi atlet.6

Prinsip adaptasi kronis

Prinsip latihan fleksibilitas adaptasi kronis ini juga diterapkan dalam beberapa olahraga, salah  satunya adalah yoga. Yoga merupakan aktivitas fisik yang bertumpu pada sikap tubuh/postur,  umumnya berurut dari satu sikap ke sikap yang lain diselingi oleh latihan pernapasan, dan seringnya  diakhiri dengan relaksasi sambil berbaring atau meditasi.


Asana?

Melihat dari sejarah, di India dikenal istilah darśana, yang dalam Hinduisme merujuk keenam sistem pandangan yang  meliputi filosofi Hindu klasik. Filosofi Hindu meliputi filsafat, pandangan dunia, dan ajaran, dan  keenam darśanaNyaya, Vaisheshika, Samkhya, Yoga, Mīmāṃsā, dan Vedanta.7

Yoga pada awalnya merupakan sebuah disiplin fisik, spiritual, dan mental, yang berasal dari  India kuno. Pertama kali yoga dikenalkan ke dunia barat oleh Swami Vivekananda pada tahun 1893  sebagai sebuah disiplin ajaran, namun yoga dapat dikenal luas sebagai olahraga seperti sekarang ini  melalui penyebaran murid-murid Tirumalai Krishnamacharya.7 Krishnamacharya atau umum dijuluki  “Bapak Yoga Modern”, mengklaim bahwa dia telah menggabungkan Hatha Yoga dengan gerakan  gimnastik barat, sehingga dalam penyebarannya dapat diterima luas oleh masyarakat dari luar India.

Prinsip gerakan yoga bertaut pada asana (postur tubuh). Karena prinsip asana ini, yoga lebih memaksimalkan peregangan bagian-bagian tubuh dibandingkan memperbanyak gerakan gerakan cepat. Yoga sangat digandrungi banyak orang dikarenakan tidak perlu bertenaga banyak  untuk melakukannya juga sangat nyaman untuk dilakukan oleh segala kalangan umur. Peregangan pada yoga tentu menjadi nilai utama dari olahraga ini, yang mana dapat melatih fleksibilitas. Karena kemudahnya melakukan olahraga ini, sangatlah memungkinkan untuk dilakukan secara rutin sehingga dapat melatih penyesuaian jangka panjang otot kita.8


Lalu bagaimana cara melakukan yoga? Sekarang ini sudah banyak kelas yoga yang berdiri. Tentu, bagi kalian yang tertarik bisa langsung ikut mendaftar untuk kelas rutin. Namun, mengikuti kelas yoga bukan satu-satunya cara untuk melakukan yoga, lho!

Saat ini, cukup dengan berbekal internet kamu sudah  bisa mengakses streaming video yoga. Banyak sekali instruktur yoga yang menunjukkan latihan yoga  melalui kanal Youtube mereka sehingga kamu dapat berlatih yoga secara mandiri dari tempatmu. Tunggu apa lagi? Mari memulai pola hidup sehat dengan menjaga kebugaran tubuh, salah satunya  dengan mulai berolahraga yoga mulai dari sekarang!


DAFTAR PUSTAKA

  1. Sherwood L. Human Physiology : From Cells to Systems. Ninth Edition. Boston: Cengage  Learning; 2014. p. 251-2.
  2. Komi PV. Stretch-shortening cycle: a powerful model to study normal and fatigued muscle.  Journal of Biomechanics. 2000;33(10):1197-206.
  3. Ekstrand J, Gillquist J. The frequency of muscle tightness and injuries in soccer players. The American journal of sports medicine. 1982;10(2):75-8.
  4. Mair SD, Seaber AV, Glisson RR, Garrett WE. The Role of Fatigue in Susceptibility to Acute  Muscle Strain Injury. The American journal of sports medicine. 1996;24(2):137-43. 5
  5. American College of Sports Medicine. Foundations of Strength Training and Conditioning.  Lippincott Williams & Wilkins; 2011. p. 168-70.
  6. Gleim GW, McHugh MP. Flexibility and Its Effects on Sports Injury and Performance. Sports  Medicine. 1997;24(5):289-99.
  7. White DG. The Yoga Sutra of Patanjali – A Biography. Princeton University Press; 2014. p. 121- 2, 97-201.
  8. Gura ST. Yoga for stress reduction and injury prevention at work. Work (Reading, Mass).  2002;19(1):3-7.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *