• Penulis: Yusnita Salsabila (AM 25069)
  • Editor: Nadya Auliarahma (AMP 2418019 NW), Astri Shafirah (AM 25009) 

Salah satu penyebab kematian saat mendaki gunung, apa itu?

Mendaki gunung dapat digolongkan sebagai olahraga ekstrim. Pada masa lampau, kegiatan ini cenderung jarang dilakukan oleh masyarakat dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam organisasi-organisasi pecinta alam. Anggota dari organisasi pencinta alam dipersiapkan dengan baik dengan mendapat pelatihan fisik, mental, serta pengetahuan mengenai pendakian yang aman. Namun, saat ini kegiatan mendaki gunung sudah lebih mudah untuk diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Meski demikian, kemudahan akses tersebut memunculkan sebuah permasalahan baru, yaitu tidak semua masyarakat yang melakukan pendakian memiliki kesiapan yang sama dengan anggota-anggota organisasi pecinta alam. Pada kasus-kasus paling ekstrim, kegiatan pendakian yang seharusnya memberikan pengalaman yang mengesankan malah meninggalkan pengalaman buruk karena terjadinya kematian. Salah satu contoh kasus kematian yang terjadi dalam pendakian diakibatkan karena pendaki mengalami hipoglikemia.1

Apa itu hipoglikemia?

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana manusia mengalami defisiensi gula darah di dalam tubuhnya. Bagaimana hipoglikemia terjadi saat mendaki? Ketika melakukan pendakian, tubuh akan mengeluarkan banyak energi yang menguras tubuh. Dalam pembentukan energi, tubuh membutuhkan glukosa untuk metabolisme supaya membentuk energi atau yang biasa dikenal dengan ATP.2 Oleh karena itulah tubuh sangat memerlukan kadar gula darah yang cukup agar energi tersebut dapat diproduksi dengan baik. Hilangnya banyak glukosa yang dipakai dalam pembentukan energi tanpa disertai asupan glukosa yang cukuplah yang menyebabkan hipoglikemia.

Apa gejala hipoglikemia?

Gejala yang dialami oleh pendaki yang mengidap hipoglikemia adalah merasa pusing, keringat dingin, kebingungan, dan merasa cemas. Namun terkadang gejala awal ini masih disepelekan oleh para pendaki gunung karena dianggap hal yang biasa, padahal jika dibiarkan tentunya akan semakin parah dan bisa menyebabkan kematian.

Terdapat klasifikasi dari hipoglikemia berdasarkan kadar glukosa darahnya, yaitu:3

  • ringan (mild) dengan kadar gula darah <70 mg/dl,
  • sedang (moderate) dengan kadar gula darah <55 mg/dl, dan 
  • berat (severe) dengan kadar gula darah <40 mg/dl.

Klasifikasi hipoglikemia ini dapat dibedakan juga dari gejala, salah satunya dari kesadaran. Untuk kesadaran yang sudah berat akan mulai menurun bahkan bisa tidak sadar.

Lalu, bagaimana penanganannya?

Jika ada pendaki yang terkena hipoglikemia dapat ditangani sesuai dengan gejala yang dialaminya. Jika menunjukan gejala ringan sampai sedang dan penderita dalam keadaan sadar, penderita dapat diberikan makanan atau minuman yang mengandung kadar gula yang cukup tinggi, seperti madu, gula merah, dan coklat. Sedangkan, untuk penderita yang mengalami hipoglikemia berat dapat dilakukan pemberian injeksi berupa Dextrose 40% (cairan dengan kandungan glukosa) melalui pembuluh darah vena.2 Jika sudah sampai tidak sadar dapat segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Pencegahan yang dapat dilakukan

Hipoglikemia dapat diantisipasi dengan mengkonsumsi makanan dan nutrisi yang cukup sebelum melakukan pendakian. Pendaki juga harus membawa makanan atau minuman yang mengandung kadar gula yang tinggi, seperti madu, gula merah, coklat dan makanan mengandung gula lainnya. Selain itu, para pendaki juga harus memiliki persiapan yang cukup sebelum melakukan pendakian. Bukan hanya fisik dan mental yang dipersiapkan, namun pengetahuan juga.1 Pengetahuan ini amat penting untuk membekali pendaki agar dapat mengantisipasi risiko yang dapat terjadi di alam bebas sehingga dapat melakukan pendakian dengan aman.

DAFTAR PUSTAKA: 

  1. Auerbach, P. S. (2016). Medicine for the outdoors: The essential guide to first aid and medical emergencies. Philadelphia, PA: Elsevier.
  2. Hall, J. E. (2016). Guyton and Hall textbook of medical physiology (pp. 913- 915). Philadelphia: Elsevier.
  3. Mansyur, A. M. (2018). Definisi, Etiopatogensis, Kriteria Diagnostik dan Klasifikasi Hipoglikemia. In Hipoglikemia Dalam Praktik Sehari-Hari. Makassar: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *