• Penulis: Safira Firdaus Nurul Hadian (AM 25057) 
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma Samiadji (AMP 2418019 NW)

Heat stroke, apa itu?

Maraton di cuaca terik dapat menyebabkan suhu tubuh menjadi meningkat. Hal ini disebut dengan kondisi Heat-related Illness. Heat-related Illness (penyakit akibat panas) merupakan keluhan atau kelainan klinis yang disebabkan oleh gangguan pengaturan suhu tubuh akibat peningkatan paparan panas yang tidak diimbangi oleh pengeluaran panas oleh tubuh. Heat-related Ilness mencakup berbagai gangguan mulai dari gangguan yang ringan hingga mengancam nyawa.1 Salah satu gangguan tersebut adalah heat stroke, yaitumerupakan suatu keadaan emergensi yang ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh ≥40°C.

Heat stroke & maraton di cuaca terik, apa hubungannya?

Penyakit akibat panas diakibatkan karena dua faktor yang bersamaan, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal diakibatkan metabolisme meningkat karena dilakukannya aktivitas berat, seperti maraton. Sedangkan faktor eksternal diakibatkan konveksi dan radiasi panas matahari ke tubuh, seperti beraktivitas pada cuaca terik. Hal ini menyebabkan tubuh menjadi panas. Ketika tubuh panas, maka akan terjadi termoregulasi atau pengaturan suhu untuk mendinginkan tubuh.2 Tubuh akan terus berkeringat sebagai bentuk termoregulasi untuk mengeluarkan panas. Padahal cairan tubuh terbatas sehingga usaha berkeringat (pendinginan tubuh) masih dinilai kurang saat tubuh terlalu panas. Panas tubuh yang terperangkap menyebabkan heat exhaustion. Jika tidak ditangani segera dapat menjadi heat stroke.

Apa saja gejalanya?

Tahap awal dari penyakit akibat panas yaitu heat exhaustion. Gejalanya yaitu kelelahan, pusing, peningkatan rasa haus, mual, muntah, kram otot, dan kulit yang dingin atau berkerut. Pada pemeriksaan fisik ditemukan takikardi (laju denyut jantung yang meningkat) ringan, ortostasis (tekanan darah rendah yang terjadi ketika bangkit dari posisi duduk atau berbaring), takipnea (laju pernapasan yang lebih cepat), membran mukosa seperti bibir dan mata yang mengering, kulit memerah, dan nyeri otot.1 Gejala yang membedakan heat exhaustion dan heat stroke yaitu dengan adanya gangguan pada sistem saraf pusat pada korban, seperti mengalami mudah marah, gangguan koordinasi gerak, linglung, kejang, bahkan koma.1

Lalu, apakah bisa dicegah?

Heat stroke dapat dicegah dengan melakukan hal berikut:3

  • menjaga hidrasi dengan meminum larutan elektrolit, 
  • menghindari paparan panas, 
  • memakai longgar, 
  • pakaian ringan, 
  • memantau level aktivitas olahraga yang dilakukan, dan
  • aklimatisasi (menyesuaikan diri dengan iklim setidaknya selama 3-4 hari sebelum mengerahkan tenaga dalam cuaca panas).

Kesimpulannya, segala sesuatu harus dipersiapkan terlebih dahulu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sama halnya jika kita sedang maraton dengan cuaca terik, kita harus memastikan agar tubuh kita tetap terhidrasi untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan dari termoregulator tubuh. Kita juga harus memperhatikan pakaian yang dikenakan.

Daftar Pustaka:

  1. Ashar, T. D., Saftarina, F., & Wahyudo, R. (2017). Penyakit Akibat Panas. 7, 219–223. 
  2. Leon, L. R., & Kenefick, R. W. (n.d.). Pathophysiology of Heat-Related Illnesses. In Wilderness Medicine (Sixth Edit). https://doi.org/10.1016/B978-1-4377-1678-8.00010-6 
  3. Glazer, J. L. (2005). Management of heatstroke and heat exhaustion. American Family Physician, 71(11), 2133–2142. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *