• Penulis: Daffa’a Naufal Zain (AM 25015)
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma (AMP 2418019 NW)

Berkegiatan di alam terbuka, hanya mengurangi risiko bukan menghilangkannya

Sejak kemunculan film-film bertemakan berkegiatan di alam terbuka, kegiatan tersebut menjadi tren di masyarakat. Banyak masyarakat umum yang menjadikan kegiatan di alam terbuka sebagai hobi baru. Padahal, kegiatan di alam terbuka membutuhkan persiapan fisik, mental, dan pengetahuan yang cukup. Meningkatnya peminat dalam berkegiatan di alam terbuka tanpa disertai persiapan yang cukup, meningkatkan pula jumlah orang yang mengalami cedera. 

Kegiatan di alam bukanlah hal mudah. Tidak satupun dari kita dapat mengendalikan alam. Kita sebagai manusia tidak bisa menghindar sepenuhnya. Hal yang bisa kita lakukan hanya mengurangi risiko cedera dengan melakukan pencegahan. Contohnya, jalanan berbatu dan tanah yang licin meningkatkan risiko tergelincir sehingga dapat terjatuh ataupun terkilir. Hal tersebut dapat dicegah dengan fokus saat berkegiatan dan memilih pijakan yang rata. Contoh lainnya, kita harus menggunakan sepatu yang tertutup untuk mengurangi risiko luka di kaki. Namun, hal yang bisa kita lakukan hanya mengurangi risiko bukan menghilangkannya. Peluang terjadinya cedera tetap ada. Maka dari itu, apabila cedera di alam terbuka tetap terjadi, bagaimana cara menghindari cedera yang lebih parah?

Evakuasi

Cara menghindari cedera yang lebih parah adalah dengan melakukan evakuasi. Evakuasi adalah pemindahan korban yang cedera atau orang yang berada di daerah berbahaya ke daerah yang lebih aman untuk mendapat penanganan.1,2 Evakuasi bisa menjadi salah satu pilihan ketika terjadi cedera saat berkegiatan di alam.

Prinsip evakuasi

Saat melakukan evakuasi, sebaiknya memperhatikan prinsip berikut:3

  1. Tidak membahayakan penolong. Apabila keadaan penolong dalam keadaan lelah atau tidak bugar, maka penolong tidak boleh melakukan evakuasi karena dapat menyebabkan cedera bagi penolong itu sendiri.
  2. Tidak membahayakan korban. Pastikan keadaan korban stabil dengan memantau tanda vital korban dalam batas normal. Batas normal tanda vital yaitu denyut nadi (60-100x/menit), tekanan darah (120/80 mmHg), laju pernapasan (12-20x/menit), dan suhu tubuh (36,5-37,2 °C). Maka dari itu, bawalah tensimeter dan termometer untuk mengukur tanda vital tersebut. Selain memantau tanda vital korban, hindari menggerakkan bagian korban yang cedera agar tidak memperparah cedera korban.
  3. Kenali tempat anda dan kemana tujuan anda melakukan evakuasi. Saat berkegiatan alam siapkan nomor darurat. Ketahui juga fasilitas kesehatan yang akan dituju di sekitar area kegiatan alam. Hal ini bertujuan agar evakuasi dapat dilakukan dengan efektif karena nyawa korban adalah taruhannya. Jika jarak menuju tempat tujuan cukup jauh, siapkan perbekalan sesuai dengan lama perjalanan. Apabila memerlukan mobil, siapkan bahan bakar yang cukup. 

Teknik-teknik Evakuasi

Teknik-teknik evakuasi dibedakan berdasarkan jumlah penolong. 

1.Teknik evakuasi dengan jumlah 1 penolong dapat dengan teknik ankle pull, shoulder pull, one-person lift, fire fighter carry, dan pack-strap carry sedangkan dengan alat dapat dengan teknik blanket pull.

Foto teknik ankle pull, shoulder pull, dan one-person lift (kiri ke kanan).
Foto teknik ankle pull, shoulder pull, dan one-person lift (kiri ke kanan).
Foto teknik fire fighter carry, pack-strap carry, dan blanket pull (kiri ke kanan).

2. Teknik evakuasi dengan jumlah 2 penolong dapat dengan teknik human crutch, two-handed seat, four-handed seat sedangkan dengan alat dapat dengan kursi.

Foto teknik human crutch, two-handed seat, four-handed seat, dan dengan kursi (kiri ke kanan).

3. Teknik evakuasi dengan jumlah 3 penolong dapat dengan teknik three-person carry sedangkan dengan alat dapat dengan tandu.

Foto teknik three-person carry dan tandu.

Evakuasi dengan barang seadanya

Melakukan evakuasi saat berkegiatan di alam dengan menggendong korban menghabiskan banyak energi penolong dan tidak nyaman bagi korban. Teknik evakuasi lain seperti menggunakan kursi dan tandu bisa menjadi opsi. Akan tetapi, kursi tidak ada di alam dan tidak semua masyarakat memiliki tandu. Namun, anda tidak perlu khawatir. Barang-barang di sekitar anda juga dapat digunakan sebagai alat untuk evakuasi. Pada medan datar yang tidak terlalu kasar, anda bisa melakukan blanket pull dengan ponco. Teknik ini cukup dilakukan oleh satu orang. 

Teknik evakuasi yang lebih aman yaitu dengan menggunakan tandu darurat yang dibuat sendiri. Langkah-langkah membuat tandu yaitu: 

  • siapkan minimal 3 kemeja atau 3 ponco.
  • sesuaikan jumlah kemeja atau ponco dengan tinggi korban.
  • cari 2 buah bambu atau kayu panjang yang lurus.
  • sesuaikan panjang bambu atau kayu panjang dengan tinggi korban, dan
  • ikatkan jaket, sleeping bag, ataupun boneka di leher korban yang dicurigai mengalami cedera leher untuk menghindari cedera yang lebih parah.

Sekilas barang-barang seperti kemeja dan ponco hanya memiliki satu kegunaan. Dengan ilmu yang diketahui, barang tersebut dapat menjadi penyelamat bagi korban di alam terbuka. 

Daftar Pustaka:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2017). In Kamus besar bahasa Indonesia. Rawamangun, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan.
  2. Evacuation Elements. (n.d.). Retrieved April 07, 2021, from https://www.osha.gov/SLTC/etools/evacuation/evac.html 
  3. Evacuation. (2021, February 18). Retrieved April 07, 2021, from https://www.ready.gov/evacuation

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *