Apa saja kecelakaan yang korbannya berisiko mengalami cedera tulang belakang?

Pernahkah Anda melihat kecelakaan lalu lintas? Lalu, apakah Anda tahu bagaimana cara menangani korban tersebut? Apapun kecelakaannya, baik kecelakaan lalu lintas ataupun kecelakaan kerja, Anda harus berhati-hati dalam menangani korban karena korban berpotensi mengalami cedera tulang belakang yang berujung fatal. Penilaian awal kemungkinan terjadi cedera tulang belakang dapat dilakukan dengan mengetahui proses kecelakaan yang terjadi. Korban kecelakaan, jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter atau kendaraan bermotor dengan kecepatan lebih dari 56 km/jam memiliki potensi yang tinggi untuk mengalami cedera tulang belakang.1 Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan korban. Jika korban tidak sadarkan diri, mengalami cedera wajah dan kepala, atau mengeluhkan rasa sakit di leher, maka kita harus curiga bahwa korban mengalami cedera tulang belakang. 

Cedera tulang belakang, bahayakah?

Cedera tulang belakang merupakan kerusakan yang terjadi pada saraf yang terletak di saluran (kanal) tulang belakang. Cedera ini merupakan hal yang serius karena orang dengan cedera tulang belakang memiliki kemungkinan 2-5 kali lebih besar untuk meninggal dibanding orang yang tidak mengalami cedera tulang belakang.1 Penanganan korban cedera tulang belakang harus cepat dan tepat. Jika penanganan yang diberikan salah, alih-alih menyelamatkan, justru bisa memperparah kondisi korban. Tentunya Anda tidak ingin niat baik Anda untuk menyelamatkan menjadi malapetaka bagi Anda dan korban, bukan? Oleh karena itu, Anda harus memperhatikan tahapan-tahapan yang akan dilakukan ketika memberi penanganan pada korban cedera tulang belakang.

Penanganan korban cedera tulang belakang

Hal yang harus dilakukan dalam menangani korban cedera tulang belakang, yaitu:2

  1. Lakukan peninjauan lingkungan sekitar. Pastikan lingkungan sekitar datar, aman, dan korban terlindungi dari objek berbahaya lain. Jauhi pecahan kaca dan lintasan kendaraan.
  2. Periksa kesadaran korban dengan menepuk kedua bahu dan memanggil korban. Hindari mengguncang tubuh korban. Jika korban memberikan respon, upayakan korban tetap sadarkan diri hingga bantuan tiba. Namun, tetap periksa laju pernapasan, denyut nadi , dan tingkat kesadarannya. Batas normal denyut nadi (60-100x/menit) dan laju pernapasan (12-20x/menit).
  3. Minta bantuan orang sekitar untuk menelepon fasilitas kesehatan terdekat.
  4. Periksa denyut arteri karotis korban. Caranya, raba dengan 2 atau 3 jari pada daerah kira-kira 2 cm dari garis tengah leher atau jakun pada sisi yang paling dekat dengan penolong. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan kompresi pada dada korban. Cara kompresi, yaitu:
    • Posisikan diri Anda berlutut di samping leher dan bahu korban.
    • Letakkan satu telapak tangan Anda di bagian tengah dada korban, tepatnya di antara payudara. 
    • Posisikan telapak tangan Anda yang lain di atas tangan pertama (posisi mengunci).
    • Pastikan posisi siku Anda selalu lurus (tidak terlipat) dan bahu berada tepat di atas tangan Anda.
    • Tekan dada korban setidaknya 100–120 kali per menit, dengan kecepatan 1–2 tekanan per detik (ikuti tempo lagu Staying Alive – Bee Gees). 
    • Saat menekan, gunakan kekuatan tubuh bagian atas. Jangan hanya mengandalkan kekuatan lengan agar tekanan yang dihasilkan lebih kuat.
perabaan arteri karotis (kiri) dan kompresi dada dengan telapak mengunci (kanan)

5. Periksa pernapasan korban. Pastikan jalur napas korban terbuka dengan baik. Jika terhambat, maka lakukan pembebasan jalan napas dengan teknik jaw-thrust. Cara jaw-thrust yaitu dengan meletakkan satu tangan pada masing-masing sisi kepala korban dengan ibu jari dekat sudut mulut pertemuan menuju dagu. Lalu angkat dan dorong rahang bawah.

Perasat jaw-thrust

6. Periksa pernapasan korban dengan teknik melihat (look), mendengar (listen), dan merasakan (feel) selama 5-10 detik. Jika korban henti napas, beri bantuan napas dari mulut ke mulut

look, listen, feel

7. Lakukan imobilisasi pada leher dan tulang belakang korban. Imobilisasi dapat dilakukan dengan meletakkan korban di papan yang datar dengan memasang collar brace atau dengan menempatkan dua handuk dan sejenisnya di kedua sisi kepala korban. Hindari menggerakan leher korban karena dikhawatirkan dapat memperparah kondisi korban.

penggunaan collar brace

8. Apabila korban ingin muntah, kita dapat melakukan log roll. Log roll merupakan teknik memiringkan korban ke salah satu sisi. Dalam melakukan log roll dilakukan minimal dengan 3 orang. Satu penolong untuk menahan kepala korban dan dua penolong untuk menahan dada, lengan, perut, dan kaki. 

teknik log roll

Apabila Anda ragu untuk melakukan hal di atas, masih ada hal yang dapat dilakukan untuk menolong. Simpan kontak fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas penolongan gawat darurat. Ketika berhadapan dengan korban, telepon fasilitas kesehatan dengan meminta bantuan serta sebutkan nama Anda, identitas korban (jenis kelamin dan perkiraan usia), lokasi korban, proses kecelakaan korban, kondisi korban, penanganan yang akan diberikan, dan nomor yang dapat dihubungi.

Daftar Pustaka:

  1. Auerbach, P. S. (2016). Medicine for the outdoors: The essential guide to first aid and medical emergencies. Philadelphia, PA: Elsevier.
  2. WHO. (2013). Spinal cord injury. Retrieved November 08, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/spinal-cord-injury
  • Penulis: Siti Fira Rahmawaty (AM 25059) 
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma (AMP 2418019 NW)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *