Regu 1 Gunung Hutan Diklanjut XXIV AMP | 8-16 Juli 2019

Senin, 8 Juli 2019

Perjalanan ini dimulai dari absensi di rumah Osan, regu kami memulai packing dan pengecekan logistik. Setelah semua logistik lengkap dan terpacking kedalam carrier masing-masing, kami berangkat ke Stasiun Kiaracondong menuju Stasiun Gubeng Surabaya dan naik kereta yang dijadwalkan berangkat pukul 17.02 WIB dengan estimasi waktu sampai 06.24 WIB.

Selasa, 9 Juli 2019

Kami tiba di stasiun Gubeng Surabaya pukul 06.24 WIB. Osan yang sudah mengontak supir travel Pak Heri segera mencari keberadaan pak Heri untuk berangkat menuju Pasar Puncang Anom di Probolinggo dan mulai membeli kebutuhan bivoac basah. Setelah membeli bivoac di pasar kami pun bivoac siang di Pasar Gubeng. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju kesbangpol Situbondo.

Perencanaan berubah dikarenakan surat yang harus diberikan langsung kepada Kesbangpol dan Dinkes. Kamipun berangkat menuju rumah teman yang bernama Gida untuk mengambil surat yang dititipkan disana, lalu melanjutkan perjalanan menuju Kesbangpol Situbondo. Sesampainya di Kesbangpol Situbondo kami mulai meminta izin dan memberikan surat-surat perizinan kepada Kesbangpol Situbondo untuk mendapatkan surat disposisi yang nantinya diberikan kepada Dinkes Situbondo.

Kami langsung ke menuju dinkes Situbondo untuk memberikan surat disposisi dari kesbangpol Situbondo dan mendapatkan dispo untuk surat izin penelitian. Setelah selesai mengurus perizinan, kami langsung berangkat menuju basecamp Baderan dan langsung berkenalan dan meminta izin untuk menginap kepada pak Samhadji. Setelah itu, kami mencari makanan di warung dekat basecamp untuk bivoac malam, evaluasi, dan briefing untuk hari 3.

Rabu, 10 Juli 2019

Kami bangun pagi lalu melakukan bivoac pagi. Setelah itu kami langsung siap – siap untuk melakukan penelitian di Desa Baderan. Sebelumnya Nandi dan Nadya menuju ke puskesmas pembantu (pustu) untuk menemui ibu bidan Fitri yang nantinya beliau berperan sebagai bidan yang bertugas di posyandu, dimana posyandu tersebut merupakan tempat penelitian kami. Osan dan Fahmy melakukan kalibrasi kompas, lalu Tania dan Fahmy menuju polsek Sumbermalang untuk mendapat surat dispo perizinan.

Setelah semua beres, kami pun siap – siap dan berjalan menuju posyandu Baderan dari basecamp. Sesampainya disana kami disambut hangat oleh warga Baderan, ibu kader, dan ibu fitri. Kami pun berbincang terlebih dahulu dan melakukan perkenalan kepada ibu – ibu disana yang sedang menggendong anaknya masing – masing. Setelah berkenalan kami pun mulai melakukan penelitian dengan mengedukasi dan mewawancarai ibu – ibu disana menggunakan kuisioner yang isinya merupakan pre-test dan post-test.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan tingkat pengetahuan ibu tentang diare sebelum dan sesudah edukasi tatap muka dengan alat bantu leaflet. Hasilnya, terdapat peningkatan yang signifikan setelah ibu diberi edukasi satu persatu dengan media cetak berisi gambar yang menunjang.

Foto bersama para ibu, anak, kader posyandu, bidan pustu Baderan

Setelah selesai melakukan penelitian, kami pun berfoto bersama dan juga makan siang bersama di posyandu. Lalu setelah pamit untuk pulang menuju basecamp kembali kami istirahat dan mulai mempacking bivoac basah yang sudah kami jemur di bawah teriknya matahari Baderan. Malamnya setelah bivoac malam kami melakukan evaluasi dan briefing untuk hari 4.

Kamis, 11 Juli 2019

Hari 1 Pendakian

Bangun pagi, kami siap – siap untuk melakukan pendakian hari pertama. Setelah bivoac pagi, kami pun berpamitan kepada pak Samhadji dan berdoa bersama untuk kelancaran pendakian. Diawali moving menuju titik start, kami sempat bingung untuk menentukannya dikarenakan jalan disana yang sudah menjadi kavling blok sehingga banyak perubahan – perubahan jalan dari peta.

Kami akhirnya menemukan titik start dan langsung melakukan orientasi medan (ormed) dan reseksi. Lalu kami pun moving menuju pos 1. Perjalanan terasa lelah dikarenakan trek yang menanjak, panasnya matahari, debu pasir di jalan yang sesekali membuat kami sesak untuk bernafas. Lelahnya dijalan terobati dengan pemandangan yang sangat indah di sebelah kanan jalan, lembahan dan hutan yang sangat asri membuat kami bersemangat kembali hingga mencapai pos 1.

Ormed di sana cukup sulit dikarenakan jalan yang sudah diperbarui dan berbeda dengan di peta. Setelah itu kami moving menuju pos 2.  Trek menuju pos 2 ini sangat amat menanjak dan menguras tenaga kami, sehingga sesekali kami bersitirahat. Trek pasir yang berdebu dan sinar matahari yang terik pun membuat mata dan pergerakan kami melambat. Sesampainya di pos 2, kami melakukan bivoac siang. Kami makan siang dengan sangat lahap dikarenakan tenaga yang sudah mulai habis. Setelah bivoac siang tenaga kami pun terisi kembali dan mulai moving menuju pos 3 untuk bivoac malam.

Setelah sampai di sana kami langsung cepat melakukan ormed dan reseksi, lalu mendirikan tenda bivoac juga flysheet.

Di pos 3 ini dekat dengan pos mata air Argopuro sehingga kami me-refill air dan bersih–bersih dengan airnya yang jernih dan sangat segar. Kami pun beristirahat di sana. Kami mulai membuat api juga melakukan evaluasi dan briefing untuk hari berikutnya.

Jumat, 12 Juli 2019

Hari 2 Pendakian

Bangun pagi, hawa dingin di hutan pun mulai terasa. Embun pagi di dedaunan pohon membuat sejuknya badan kami yang masih kaku saat terbangun. Kami pun mulai bivoac pagi sambil berbincang – bincang hangat dekat api unggun. Setelah itu kami mulai membereskan alat – alat bivoac, mulai bergegas untuk pemanasan, dan moving menuju pos 4. Perjalanan menuju pos 4 kami pun diwarnai dengan suara burung berkicau yang merdu. Kami melihat monyet berwarna coklat yang sedang bermain dari pohon ke pohon.

Sepanjang perjalanan menuju pos 4 masih menanjak tetapi tanjakan kali ini tidak disertai pasir dan sudah berada di kawasan hutan sehingga perjalanan tidak terasa lebih melelahkan dibanding hari sebelumnya karena aroma rimba yang sudah menjelajahi indra pembauan kami hingga kami sampai di mata air 2 yang juga pos 4 lalu kami langsung melakukan ormed serta reseksi.

Setelah selesai kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 5 dan 6 yang akan menanjak. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami, kali ini pemandangan yang ada di sekitar kami bukanlah hutan lebat seperti sebelumnya tetapi sudah berganti dengan vegetasi jarang dan ilalang yang tinggi. Perjalanan menanjak yang melelahkan terbayarkan dengan pemandangan yang indah sejauh mata memandang hingga kami sampai di pos 6 yang terletak di punggungan gunung Jambangan.

Siang itu matahari bersinar terang tetapi angin dingin tetap ramah menyapa kami sepanjang perjalanan dari alun-alun besar hingga Pos 9 Cikasur tempat kami bivoac malam. Di Cikasur kami langsung disambut oleh kicauan burung yang indah, suara merak, monyet, rusa, dan berbagai jenis hewan lainnya yang kami dengar seperti benar – benar berada dalam kawasan fauna. Perjalanan kami terasa menyenangkan karena vegetasi sudah berubah menjadi padang savana yang luas dengan ilalang yang tidak terlalu tinggi dan pohon-pohon tinggi yang jarang hingga kami sampai didepan sungai yang airnya jernih seperti kristal dan ditumbuhi saladah air bernama Sungai Qolbu menandakan sudah sampai di Cikasur.

Kami langsung mempersiapkan shelter untuk bivoac malam, suara merak menggema sepanjang Cikasur tetapi sayangnya kami hanya bisa menikmati suara merak dan tidak dapat melihat wujudnya secara langsung.

Setelah shelter selesai dibangun kami langsung melakukan dokumentasi sembari menikmati indahnya savana Cikasur.

Malam hari terasa sangat dingin karena angin berhembus kencang dan dingin dari segala penjuru. Malam itu tidak lupa kami melakukan evaluasi dan briefing untuk persiapan hari esok yang panjang.

Sabtu, 13 Juli 2019

Hari 3 Pendakian

Kami dibangunkan oleh Pampam dan Tsaniya yang mendapat shift terakhir jaga api. Kemudian kami melaksanakan bivoac pagi. Pagi itu terasa dingin karena angin yang berhembus cukup kencang. Namun api yang kami buat, tetap menjaga semangat kami.

Bivoac pagi kami ditemani oleh sunrise dari Timur. Pancarannya yang indah, suara hewan yang saling sambut menyambut, membuat kami penasaran akan keindahan yang akan ditunjukkan oleh Argopuro pada pendakian hari ini. Kami juga disuguhi oleh penampakan merak yang kabur karena kaget akan kedatangan kami. Begitulah hari dimulai.

Pada pendakian hari ini kami berencana melewati 11 pos, dari Cikasur dan finish di Sabana Lonceng. Pemandangan secara umum masih tetap indah dengan banyaknya savana yang kami lewati. Saat menuju pos cisentor disana kami sempat dikagetkan dengan wujud mamalia berwarma hitam yang hendak mengambil air di lembahan. Awalnya kami mengira itu macan kumbang, namun saat dilihat kembali ternyata seekor monyet yang lumayan besar yang sangat mirip dengan macan kumbang. Wajar kehawatiran kami ini terhadap macan dikarenakan Agopuro merupakan surganya para hewan dan macan pun masih berkeliaran bebas di hutan ini.

Sesampainya di Cisentor, kami melakukan bivoac siang. Air sungai Cisentor sangat jernih dan segar sekali, beberapa dari kami membersihkan diri di sungai tersebut. Setelah bivoac siang kami melanjutkan perajalanan hingga pos 20 yaitu sabana lonceng. Sesampainya disana kita ormed dan reseksi lalu langsung menuju puncak Rengganis.

Perjalanan menuju puncak Rengganis ini cukup mencekam dikarenakan cerita mistis yang sangat amat kental. Kami pun terus berdoa selama perjalanan menuju puncak. Setelah sampai puncak kami pun melakukan dokumentasi ditemani indahnya sunset jingga di antara awan.

Kami melakukan bivoac malam di pos Sabana Lonceng lalu melakukan evaluasi dan briefing untuk hari selanjutnya. Di sini kami sempat ditemani tamu yang sedang mencari makanan.

Minggu, 14 Juli 2019

Hari 4 Pendakian Argopuro-Bremi

Ini adalah hari pendakian terakhir kami. Kami bangun dini hari untuk mulai summit attack menuju puncak Argopuro. Trek menuju puncak ini terkenal curam dan berbahaya dengan hembusan angin yang kuat kami pun berdoa sepanjang jalan dan saling melindungi satu sama lain. Perjalanan menuju puncak cukup melelahkan, namun terbayar dengan indahnya sunrise di puncak Argopuro.

Puncak ini rasanya berbeda dengan gunung – gunung yang pernah kami daki. Puncak ini terasa lebih asri dan terjaga, juga sangat kental dengan cerita mistisnya. Disana kami pun melakukan ormed dan reseksi lalu langsung melakukan dokumentasi. Tawa, haru, bahagia, senang, semua itu yang kami rasakan. Perjalanan 4 hari 3 malam dengan total jarak lebih dari 40 km bukanlah hal yang mudah. Titik capaian kami menuju puncak akhirnya terbayarkan, semua tersenyum lepas dengan senang, tertawa bersama dan saling menyelamatkan satu sama lain walau dengan muka yang sudah hitam dan kotor. Argopuro memang menunjukkan seluruh isi alamnya yang kami tunggu sampai di puncak ini.

Setelah dokumentasi di puncak, kami pun bergegas untuk turun. Trek turunan ini sangat amat terjal, berbahaya, diapit kanan kiri oleh jurang yang curam. Kami selalu berhati – hati di tiap langkahnya, saling tolong menolong mengulurkan tangan hingga akhirnya sampai pada pos 25 yang mulai landai.

Kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai Danau Taman Hidup. Ini merupakan tempat ikonik terakhir di Argopuro yang kami singgahi. Disini kabut turun sangat tebal sehingga kami sulit menentukan ormed. Kami mulai me-refill air yang sudah habis di danau ini dan melakukan bivoac siang. Setelah bivoac siang kami pun bergegas menuju pos berikutnya. Saat hendak bergegas, kabut pun mulai turun perlahan. Pemandangan Danau Taman Hidup ini ternyata sangatlah indah dah menyejukkan. Rawa, hutan, yang mengelilingi danau ini terlihat sangat asri. Kami pun menyempat dokumentasi sebentar disana sebelum melanjutkan perjalanan hingga basecamp.

Sesampainya di basecamp, kami langsung disambut oleh pak Arifin yaitu petugas basecamp disana. Kami beristirahat dan menyelamati satu sama lain karena pendakian Argopuro telah selesai. Kami pun bergegas untuk bersih – bersih dan bivoac malam. Kami istirahat disana untuk menunggu jemputan travel esok hari.

Senin, 15 Juli 2019

Adzan subuh membangunkan kami dari tidur lelap kami, ada yang langsung bergegas ke kamar kecil, beribadah, dan juga masih nyaman berbaring dibalik sleeping bag masing-masing. Tanpa sadar kami merindukan suara adzan yang berkumandang dari masjid setelah 3 malam tidak dapat mendengarnya langsung hingga supir travel kami datang menjemput untuk segera berpindah ke Malang.

Di tengah perjalanan, kami berhenti di toko pusat penjualan susu sapi di Bremi karena rata-rata pekerjaan masyarakat di Bremi merupakan peternak sapi. Sepanjang perjalanan kami semua tertidur hingga tidak sadar kami sudah tiba di Malang dan langsung menghubungi kenalan kami Mapala UMM DIMPA untuk menyantap Bakso Presiden bersama. Tidak lama bercengkerama, kami menuju stasiun karena keberangkatan kereta kami pukul 16.00 WIB.

Selasa, 16 Juli 2019

Sudah 8 jam lamanya kami duduk di kereta dan semua orang sudah tertidur karena rasa lelah yang baru datang, jika dilihat ke bawah semua kaki kami mulai bengkak dan pegal pegal. Sepanjang perjalanan pun diisi oleh kegiatan kami yang beberapa kali terbangun lalu tidur kembali sampai matahari pagi menyambut kami lewat jendela kereta menandakan bahwa kami akan segera sampai destinasi akhir kami yaitu Stasiun Kiaracondong.

Sampai di Stasiun Kiaracondong, kami sarapan di warung terdekat, lalu bergegas menuju rumah Osan untuk mengembalikan logistik regu serta beristirahat sebentar. Perjalanan panjang kami berakhir disini. Kami rasa Gunung Argopuro ini menyimpan bekas pengalaman, kenangan, dan cerita yang banyak. Semoga semua yang kami rasakan dan alami akan tetap ada di diri kami masing masing bahkan bisa diceritakan juga kepada orang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *