Regu 4 Diklanjut XXIV AMP | 11-17 Juli 2019

Regu 4 yang beranggotakan Wahyu, Adit, Tasya, Milla, Raihanah, Yuni, dan Salsa memilih untuk melakukan penyusuran pantai dengan didampingi oleh Kang Prasojo dan Teh Zahra.

Setelah melakukan berbagai persiapan dan simulasi, penyusuran pantai dilaksanakan pada tanggal 11-16 Juli 2019, selagi libur semester genap. Penyusuran kami lakukan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Dimulai dari di Pelabuhan Bangsal dan berakhir di Koloh Gereneng sejauh 54,5 km.

Dalam perjalanan ini kami melakukan navigasi terbuka di pantai untuk memastikan posisi apakah sudah berada di titik yang tepat, seperti titik start, titik-titik bivoac, juga titik finish. Selain itu, dilakukan juga observasi terhadap kesesuaian legenda di peta dengan penampakan aslinya, seperti ada tidaknya perubahan vegetasi, pencatatan kondisi muara sungai, dan lainnya.

Kamis, 11 Juli 2019

Pagi itu, perjalanan ini kami mulai dengan berkumpul di sekre C6 Jatinangor. Setelah absensi dan memastikan semua logistik lengkap, kami memesan jasa transportasi mobil menggunakan gawai. Dengan segala hambatannya pada waktu itu, mobil baru sampai sekitar 20 menit kemudian sehingga kami bergegas memindahkan logistik ke mobil sebelum akhirnya kami berangkat menuju Pool Bus Primajasa. 

Perjalanan menuju Pool Bus Primajasa cukup ramai lancar. Sebagian dari kami memutuskan untuk beristirahat dan akhirnya tertidur. Tak hanya kami yang mengantuk, sang supir pun merasakan kantuk sehingga sempat beberapa kali salah dalam memilih jalur. Namun, alhamdulillah kami tetap sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tepat waktu. 

Sesampainya di tempat, kami masih harus menunggu jadwal bus kami, yaitu pukul 5 sore. Pool Bus Primajasa yang terletak di Komplek Batununggal ini memiliki beberapa fasilitas di sekitarnya, seperti musholla, kantin, ATM BNI, dll.

Pada pukul 16.45 petugas bus membantu memindahkan barang-barang kami ke dalam bus. Sebelum berangkat kami sempatkan berfoto di depan bus dengan meminta tolong pada salah satu penumpang yang merupakan seorang TNI, terlihat dari pakaiannya yang loreng-loreng. Bapak TNI tersebut sangat baik, ramah, dan sepertinya cukup humoris. 

Tepat pukul 17.00, bus kami tancap gas menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jujur, kami cukup takjub ketika bus berangkat sesuai dengan jadwal mengingat kebiasaan orang Indonesia yang suka terlambat dalam melakukan berbagai hal atau biasa disebut “ngaret”. Namun tentunya itu tidak mengurangi rasa syukur kami. Kami memilih untuk beristirahat di dalam bus; ada yang begitu cepatnya langsung terbuai di alam mimpi, ada yang memasang headset untuk mendengarkan lagu sebelum akhirnya juga terlelap, ada pula yang tetap terjaga untuk sementara. Matahari terus tenggelam di ufuk barat, tampak ukuran matahari lebih besar dari pada biasanya, bentuknya bulat sempurna sebelum kemudian hilang dibalik bukit dan warna oranye berubah menjadi biru pucat dan perlahan-lahan menjadi gelap pekat. 

Lalu lintas pada malam itu terhitung cukup ramai lancar. Kami sampai tepat pada pukul 22.00 di Bandara Soekarno-Hatta dengan total 5 jam waktu perjalanan. Setelah menurunkan logistik dan memindahkannya ke tempat tunggu, sebagian dari kami langsung mencari letak musholla untuk melaksanakan shalat Isya dan Magrib. Sebagian lain menunggu di tempat selagi menjaga logistik. Setelah itu, kami memutuskan untuk mencari makanan di sana; ada yang membeli makanan dari salah satu gerai fast food, ada yang membeli makanan yang bisa cepat dihangatkan, ada juga yang membeli mie instan dalam cup. Harga makanan di sana memang cukup mahal, wajar saja karena berada di kawasan bandara. Setelah makan, kami memutuskan untuk berfoto-foto dengan meminta bantuan dari salah seorang yang berada di sana. Kebetulan sekali, dia juga seorang tentara, yang sebelumnya sempat berbincang dengan salah satu dari kami. Nampaknya dia tertarik karena kami semua menggunakan jaket kuning yang cukup mencolok sehingga bertanya asal dan tujuan kami. 

Setelah berfoto-foto, kami memutuskan untuk beristirahat di bangku yang terdapat di Gate 1. Alhamdulillahnya di sana juga terdapat banyak tempat untuk mengisi baterai gawai kami. Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa dari belakang kami, ternyata ia merupakan tentara yang membantu memfoto kami di Pool Primajasa. 

Jumat, 12 Juli 2019

Pada pukul 01.00 salah satu pegawai menghampiri kami, katanya untuk keberangkatan jam 04.30 sudah bisa check in. Pada saat melalui tempat pemeriksaan kami mengalami sedikit masalah. Dus berisi logistik yang kami bawa membuat petugas curiga ketika melewati alat sinar X. Akhirnya, petugas bandara membuka dus tersebut dan mendapati adanya parafin di dalam. Kami pun harus merelakan parafin tersebut diambil oleh petugas bandara. Setelah check in, kami menuju ke tempat tunggu dan memutuskan untuk melanjutkan istirahat di sana. Di tempat tersebut ternyata ada beberapa fasilitas yang disediakan untuk para pengunjung, di antaranya terdapat game corner juga beberapa komputer yang tersambung dengan internet sehingga para pengunjung dapat berselancar di dunia maya sambil menunggu keberangkatan.

Pada pukul 04.00, jadwal pesawat kami dipanggil dan sudah bisa menuju ke pesawat. Pada pukul 04.50, pesawat kami mulai lepas landas menuju Bandara Internasional Lombok. Perjalanan Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Lombok membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan kami sampai di Bandara Lombok pada pukul 07.00 WITA. 

Sesampainya di Bandara, kami menghubungi Mas Adi yang merupakan warga lokal sebagai penyedia transportasi selama kami di Lombok. Dari Bandara, kami langsung menuju ke Mataram untuk mengurus perizinan dan belanja kebutuhan bivoac. Pertama mengurus perizinan ke Kesbangpol NTB, kemudian dari sana kami harus memasukkan beberapa surat lanjutan ke Bappeda NTB, Kesbangpol KLU, Kantor Kecamatan Pemenang, dan Desa Pemenang Timur. Selain itu, kami juga belanja kebutuhan bivoac di toserba lokal yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. 

Setelah menyelesaikan perizinan dan belanja kebutuhan bivoac, kami segera menuju ke basecamp yang terletak di Pemenang. Sesampainya di tempat, kami langsung melakukan packing logistik hingga mendekati waktu magrib. Kemudian kami melakukan bivoac malam dan evaluasi hari pertama. Setelah evaluasi kami langsung beristirahat untuk mempersiapkan perjalanan hari pertama.

Sabtu, 13 Juli 2019

Hari 1 Penyusuran Pantai

Pagi ini kami bangun sebelum subuh. Di Lombok waktu subuh lebih siang dibandingkan Bandung, yaitu pada pukul 05.10 WITA. Setelah bivoac pagi kami melakukan pemanasan kemudian berjalan menuju titik start yang berjarak 300 meter. Saat sampai pukul 06.00, kondisi di sana masih gelap sehingga kami harus menunggu beberapa menit lagi agar medan sekitar dapat terlihat lebih jelas. Ketika kondisi sekitar sudah cukup terang, kami melakukan ormed (orientasi medan) dan reseksi untuk memastikan bahwa tempat kami berada sudah sesuai titik start. Sayangnya hari itu Gunung Rinjani terhalang vegetasi dan bangunan sehingga tidak dapat ditembak. 

Hari ini kami akan melakukan susur pantai sejauh 16,5 km dan harus mendokumentasikan sebanyak 21 sungai yang terdapat di peta. Perjalanan yang cukup panjang, namun pemandangan pantai Lombok Utara yang indah membuat kami tidak pernah bosan dan selalu saja banyak hal menarik yang dapat dilihat. 

Hamparan pasir putih menyelimuti indahnya pantai di Lombok.

Tepatnya ada 14 sungai yang harus didokumentasikan sepanjang perjalanan dari titik start ke titik bivoac siang 1. Namun sejauh ini lebih banyak kondisi sungai yang kering sehingga tidak membentuk muara ke laut. Alhasil kami belum menggunakan webbing untuk melakukan penyeberangan basah. Setelah melewati sungai ketiga, kami memutuskan untuk melambung medan yang sulit sesuai dengan perencanaan.

Sesampainya di titik bivoac siang 1, kami melakukan ormed dan reseksi yang dilanjutkan dengan bivoac siang. Kebetulan terdapat gubuk kecil di sana. Setelah mengetahui pemiliknya, kami meminta izin untuk beristirahat di sana dan alhamdulillah diizinkan.

Setelah bivoac siang, kami melanjutkan perjalanan menuju titik bivoac malam 1 dimana kami harus melewati dan mendokumentasikan 7 sungai.

Pemandangan sepanjang Pantai Lombok yang tak ada duanya.

Sesampainya di titik bivoac malam 1, kami langsung melakukan ormed dan reseksi dengan ditemani langit jingga yang menawan dan pemandangan anak-anak yang sedang berenang di tepi laut. Setelah itu, kami diarahkan oleh penduduk lokal menuju pemukiman yang sempat kami lalui saat menuju titik bivoac malam 1 dan memutuskan untuk beristirahat disana.

Hari pertama perjalanan kami ditutup pemandangan sang surya yang tenggelam perlahan. Kolaborasi oranye senja, hembusan angin laut, dan tarian burung-burung yang terbang rendah menciptakan simfoni alam yang begitu indah, pemandangan yang takkan terlupakan. 

Penduduk lokal di sana sangat ramah kepada kami. Bahkan, mereka menyiapkan masakan dan beberapa kudapan yang dapat kami santap dengan cuma-cuma. Akhirnya bivoac malam kami berjalan dengan ramai, dipenuhi dengan percakapan dan gelak tawa. Penduduk banyak bercerita mengenai kejadian gempa Lombok tahun lalu. Sampai saat ini penduduk pun masih merasakan trauma dan masih terjadi beberapa gempa kecil yang sempat kami rasakan juga. Selain itu, ada juga yang bercerita mengenai cerita rakyat lokal seperti keberadaan Desa Besari yang masih menjadi misteri hingga saat ini. 

Minggu, 14 Juli 2019

Hari 2 Penyusuran Pantai

Hari kedua perjalanan, kami bangun dengan semangat yang baru. Hari ini kami akan melakukan susur pantai sejauh 19 km dam melewati 12 sungai.

Pemandangan pantai di hari kedua pun tidak kalah dibandingkan hari pertama, walaupun sudah tidak terdapat pasir putih lagi. Setelah pamit kepada penduduk, kami melanjutkan perjalanan susur pantai. Sama seperti hari pertama, sebagian besar sungai yang kami lewati sedang dalam keadaan kering, sehingga hanya terlihat cekukan yang memanjang hingga ke laut. 

Tepatnya ada 9 sungai yang harus kami dokumentasikan dari titik bivoac pagi 2 menuju ke titik bivoac siang 2. Berbeda dengan hari pertama, titik bivoac siang 2 kami terletak jauh dari pemukiman dan tidak terdapat satu pun gubuk yang dapat digunakan. Namun, terdapat pepohonan yang cukup rindang sehingga kami dapat melakukan bivoac siang di sana. 

Ketika sampai di Teluk Amoramor, ada medan yang tidak bisa dilewati sehingga kami harus melambung. Kami harus menaiki bebatuan yang cukup tinggi dan luas, di saat ini kami harus saling membantu satu sama lain karena medannya yang cukup memerlukan kehati-hatian.

Semakin ke timur sepertinya sinar matahari semakin panas. Berbeda dengan hari pertama, hari kedua matahari sangat terik sehingga kami harus membasahi topi lebih sering karena cepat sekali menguap. Tentunya kami juga tidak lupa foto-foto dengan cahaya matahari yang mendukung.

Selain itu, semakin ke timur, tepatnya semakin mendekati titik bivoac malam 2, tiba-tiba ada serangga kecil yang menggigit kulit kami dan meninggalkan bekas bulat merah kecil seperti gigitan nyamuk. Serangga ini agresif, bahkan repellant yang kami bawa tidak berpengaruh banyak. Perbedaan lain yaitu, penduduk sekitar kami mengarahkan untuk menuju perkampungan yang berada sekitar 1 km setelah titik bivoac malam 2, bukan sebelum seperti hari pertama. Meskipun demikian, kami tetap disambut dengan ramah oleh penduduk di desa tersebut.

Senin, 15 Juli 2019

Hari 3 Penyusuran Pantai

Hari ini adalah hari terakhir perjalanan susur pantai untuk regu kami. Hari ini kami harus menempuh jarak 18,5 km dan harus mendokumentasikan 3 sungai sebelum bivoac siang 3 dan 4 sungai setelah bivoac siang 3. 

Kami memutuskan untuk memajukan ROP dikarenakan harus kembali lagi ke titik bivoac malam 2 dan melakukan ormed serta reseksi ulang sebelum melanjutkan perjalanan. Tak lupa untuk meluangkan waktu untuk berfoto bersama.

Semakin ke timur, medan pantai yang dilalui lebih monoton dibandingkan sebelum-sebelumnya dan juga sama panasnya dengan perjalanan di hari kedua. Namun, karena ini adalah hari terakhir perjalanan, kami menjadi lebih semangat untuk mencapai titik finish. Sungai-sungai di hari ketiga pun sebagian besar dalam keadaan kering sehingga tidak diperlukan penyeberangan basah. Sama seperti hari kedua, kami melakukan bivoac siang di bawah pepohonan yang rindang.

Pemandangan pantai sejauh ini masih biasa-biasa aja, namun saat mulai mendekati garis finish pemandangan pantai mulai menarik dikarenakan medan disamping kami berupa hutan dan warna pantainya agak putih dari sebelumnya. Saat berjalan di pantai tersebut kami menemukan banyak sekali gumpalan-gumpalan berwarna coklat yang aneh. Namun, kami masih mengabaikannya dan menginjaknya tanpa rasa curiga. Hingga akhirnya kami sampai di titik akhir ternyata kami temukan sekumpulan kerbau sedang berkubang di suatu genangan air yang cukup besar. Di situ kami tersadar bahwa ternyata gumpalan-gumpalan tersebut adalah kotoran kerbau yang telah mengering. Di situlah, di titik finish, kami disambut oleh sekawanan kerbau dan kotoran-kotorannya. 

Hal yang sangat membahagiakan saat kami akhirnya dapat sampai di titik finish. Dengan semangat yang membara kami langsung melakukan ormed dan reseksi untuk benar-benar meyakinkan bahwa inilah titik finish yang kami tuju. Tampakan sungai titik finish di peta cukup lebar, namun karena sedang kering kami harus memperkirakan di manakah persisnya letak tepi sungai seharusnya.

Setelah mendokumentasikan perjalanan kami di titik finish, kami langsung berjalan ke jalan terdekat untuk menemui mobil jemputan kami. Perjalanan hari ini berakhir dengan menyenangkan dan kami memutuskan untuk ke Desa Gangga, menerima tawaran dari Mas Adi yang telah banyak membantu kami.

Selasa, 16 Juli 2019

Penelitian Kesehatan

Hari ini adalah jadwal untuk penelitian di Desa Pemenang Timur. Pertama kami pergi ke Puskesmas Pemenang terlebih dahulu untuk meminta bantuan dari Programer Penyakit Menular yang ada di sana. Dari sana kami diberikan kontak kader untuk membantu mengunjungi rumah orang-orang yang akan dijadikan sebagai responden dalam penelitian kami. 

Alhamdulillah, selama penelitian ini kami mendapatkan banyak sekali bantuan dan kemudahan sehingga dapat mengejar 51 responden dalam satu hari. Kami harap penelitian ini dapat membantu sebagai data untuk intervensi/penelitian selanjutnya di Desa Pemenang.

Malamnya kami kembali ke Desa Gangga untuk melakukan packing ulang logistik. Setelah itu kami langsung tidur karena harus bangun sangat pagi untuk berangkat ke Bandara Lombok. 

Rabu, 17 Juli 2019

Tanpa terasa ini adalah hari terakhir kami di Lombok. Agak berat memang untuk meninggalkan Lombok, apalagi kami belum sempat untuk berjalan-jalan mengunjungi banyak tempat wisata yang indah di sana. Namun, semoga ada lain kesempatan di mana kami dapat kembali mengunjungi Lombok sebagai pelancong dan mengunjungi banyak tempat di sana. 

Kami pulang dengan menggunakan pesawat yang sama, si burung besi berlambang singa. Sebelum kembali ke Bandung kami menitipkan rindu pada Lombok dan doa agar negeri ini terus diberikan perlindungan dari berbagai macam bencana. 

Akhir kata. Ini adalah perjalanan yang sangat luar biasa bagi kami.

Terima kasih AMP!


Check this out!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *