Hari Jumat, 21 Juni 2019 merupakan hari yang tak terlupakan bagi kami berenam, yaitu Ezra, Kenji, Raska, Lucy, Rana, dan Yumei, karena pada hari ini kami memulai suatu perjalanan yang akan menjadi sebuah cerita baru yang sangat berharga dan akan selalu kami kenang. Dimulai dengan serangkaian apel pelepasan pada pukul 17.45 yang kami lakukan di Sekretariat Bandung (Sendal), kicauan burung seakan terdengar ikut melepas kami yang akan menuju ke Sukabumi.

Apel pelepasan dilakoni oleh seluruh peserta perjalanan bersama dengan perwakilan dari DP XXIII, Teh Vani. Apel pelepasan berjalan dengan singkat, walaupun terjadi keterlambatan dari yang sudah ditentukan karena kami sebelumnya belum menyiapkan logistik untuk upacara pelepasan, sehingga harus mencari bendera terlebih dahulu sehingga kami harus melewati drama singkat ini. namun kata demi kata, saran demi saran, peringatan demi peringatan yang dilantunkan Teh Vani terdengar seperti desiran kekhawatiran sekaligus kebanggaan di telinga kami yang membuat apel pelepasan sangat khidmat.

Setelah apel kami melakukan persiapan masing-masing seperti sholat, ngemil, dan tentu saja berdoa. Setelah 15 menit persiapan kami mulai menggunakan kacu oranye kami dan berkumpul di ruang tengah sendal untuk briefing bersama. Briefing dipimpin oleh danru kami, Ezra, dan diikuti oleh Kang Aldo selaku mentor, Kang Ojo selaku tim rescue, dan Wahyu, Raihanah, serta kang Aditya sebagai tim darat. Isi briefing memang terdengar sama seperti pengarungan pengarungan biasa, operasi, logistik, transportasi namun entah kenapa hari ini briefing dilakukan sedikit lebih lama dari biasanya, kami khawatir tidak mau ada satu hal pun yang tertinggal baik di sendal maupun di sungai Cimandiri yang akan menjadi saksi perjalanan kami selama 4 hari 3 malam. Briefing selesai pukul 18.15 yang dilanjutkan dengan perjalanan menuju Sukabumi.

Seperti perencanaan kami menggunakan 3 mobil yaitu Innova hitam Kenji, Livina merah Ezra, dan Brio hitam Raska. Mobil Livina menjadi mobil logistik dan sisanya menjadi mobil penumpang. Selama perjalanan kami sangat antusias hingga membuat kami sulit untuk tertidur. Di tengah perjalanan kami mulai membicarakan apa yang akan kami lakukan setelah perjalanan ini berakhir sebagai euphoria. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai di Sukabumi.

Rencananya, mobil Livina dan Brio akan langsung menuju ke titik start sementara Innova akan menuju ke tempat pertemuan untuk menjemput senior yang turun sebagai tim rescue yaitu Kang Tovan, Kang Andaru, Kang Fithyan, dan Kang Cecep baru kemudian menuju ke titik start. Tapi, karena kondisi jalan yang sudah gelap, mobil Brio dan Livina pun berbelok ke arah yang salah. Kedua mobil tersebut belok ke jalan yang menuju ke sebuah hutan gelap dengan jalanan yang sempit dan jurang di sebelah kanan. Setelah masuk cukup dalam, barulah kedua mobil ini sadar kalau mereka salah jalan dan harus berputar arah.

Setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di titik start dengan selamat, lalu dengan itikad baik kami menuju ke rumah pak RW di titik start kami yaitu Desa Parakanlima. Pak RW menyambut kami dengan hangat dan langsung mengantar kami ke rumah warga yang sudah disiapkan untuk tempat kami beristirahat. Sesampainya di rumah warga, kami langsung menyiapkan logistik sementara para tim rescue berdiskusi merundingkan titik-titik yang bisa menjadi jeram berbahaya bagi kami dan harus diwaspadai.. Warga disana terlihat sangat antusias ketika melihat kami memindahkan dan mengembangkan perahu, dimana sebenarnya waktu sudah menunjukkan pukul 22.30.

Setelah selesai melakukan persiapan untuk besok akhirnya kami melakukan evaluasi untuk hari pertama ini, evaluasi yang paling menjadi fokus adalah ketika transportasi banyak melewatkan belokan ke titik start karena kondisi jalanan yang gelap. Setelah evaluasi per bidang, kami memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan briefing di hari esok dikarenakan kondisi tubuh yang sudah tidak bisa diajak kompromi dan berharap esok langit dan bumi berpihak kepada kami. Hari satu – selesai.

Hari 2

Ayam berkokok pada pukul 05.00 WIB membangunkan kami untuk memulai hari keuda. Lekas kami semua bergerak untuk melakukan kegiatan pribadi seperti ke toilet, sholat subuh atau hanya sekedar merapihkan barang yang akan dibawa. Setelah itu sesuai kesepakatan, kami melakukan briefing pada pagi ini, tapi ada satu yang berbeda di briefing pagi ini yaitu pakaian yang kami kenakan memiliki warna yang sama yaitu hijau dengan tulisan “PERJALANAN SUNGAI CIMANDIRI”, meski tidak diungkapkan, dalam hati kami bangga melihat pakaian kami dan berharap ke depannya akan secerah hijaunya baju perjalanan kami. Briefing kami lakukan sambil membuka peta besar dan coretan coretan tim rescue menandakan titik-titik yang harus diwaspadai.

Setelah briefing selesai, kami langsung tancap gas menuju rumah Pak RW untuk bivoac pagi karena kami memang sudah sangat lapar dan tak sabar untuk memulai kegiatan. Menu kami pagi itu adalah ayam goreng, ikan asin, dan sayur toge dengan kerupuk. Setelah selesai bivoac pagi, kami langsung bergegas kembali ke rumah tempat kami menginap untuk persiapan logistik. Persiapan logistik pagi ini terkoordinir dengan baik dan dilaksanakan dengan cepat. Tak lama setelahnya, tim darat mengantarkan kamke titik start di Jembatan Leuwiliang. Lalu kami segera menurunkan perahu bersama dengan para tim rescue.

Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah orientasi medan untuk memastikan posisi kami ada di jembatan yang benar dan juga melakukan pemetaan titik start. Lalu, kegiatan diawali dengan pemanasan yang dipimpin Kenji, lalu kami mengambil foto bersama dengan tim rescue, mentor, dan perahu. Pada perjalanan ini kami juga mendapat perahu baru berwarna oranye. Tanpa berlama-lama lagi, pengarungan pun dimulai. Kami sempat pesimis karena mendapat kabar bahwa sungai cimandiri sedang surut. Tapi dengan modal semangat, kami pun mulai mengayuhkan paddle kami dengan menggebu-gebu.

Setelah mengarung selama beberapa menit, kami melihat di depan sudah mulai terlihat batu-batuan yang menandakan air mulai dangkal. Kemudian kami turun dari perahu untuk lining dan hebatnya hal ini harus kami lakukan berulang-ulang kali sampai kami berfikir sepertinya kami sedang melakukan Ekspedisi Susur Sungai. Tetapi kami tidak boleh megeluh, meskipun lelah kami menjalani pengarungan ini dengan obrolan-obrolan santai dan juga canda tawa sehingga menumbuhkan rasa semangat dalam mengarungi sungai hari ini.

Pada hari ini, kami berencana untuk berhenti di 5 pos dan juga titik start serta titik finish untuk melakukan pemetaan. Sebelum bivoac siang, kami berhenti di 3 pos.Sambil membaca peta, kami juga terus melakukan scouting untuk memastikan kami berhenti di pos yang sesuai dan tepat. Di pemetaan ini semua orang memiliki tugas masing-masing yang terus digilir. Untuk tugasnya sendiri terdiri dari orang yang melakukan orientasi medan (ormed) untuk memastikan kita berada di titik yang tepat, lalu ada yang bertugas untuk scouting untuk membantu Rana, artis kita yang bertugas untuk menggambar di seluruh pos, serta dokumenter yang berfungsi untuk mendokumentasikan kegiatan dan keadaan sekitar serta mengambil gambar dari sungai yang digambar untuk hasil pemetaan nantinya. Setelah kami melewati pos 3, kami mengarung lagi lalu kemudian tiba di Jembatan Merah.

Di jembatan ini, tim darat kami turun dan membawa makan siang kami. Teramat baik tim darat kita ini, rasanya ingin berterimakasih ribuan kali karena sudah mau menyempatkan waktu dan tenaganya untuk membantu kami. Lalu kami makan siang di tepi sungai. Menu kami siang ini adalah sayur asam dan juga ayam goreng serta tempe ditemani dengan nutrisari dan air mineral yang segar.

Awalnya kami sempat terkejut karena saat membuka plastik makanan hanya ada nasi, tempe, dan ayam, namun ternyata sayur dan plastik sambalnya tertinggal di mobil dan belum dibawa ke tempat bivoac, sehingga Wahyu balik lagi untuk membawakannya ke tempat bivak ketika nasi kami sudah tinggal seperempat dan bahkan sudah ada yang habis. Tapi, karena tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan wahyu untuk balik lagi ke mobil dan juga tidak ingin membuang-buang makanan, kami tetap memakanan sayur asamnya disisa sisa  penghabisan dan bahkan juga ada yang menggadonya walaupun tidak dengan sambalnya.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan untuk menyelesaikan pemetaan di dua pos terakhir, yaitu pos 4 dan 5. Setelah lewat dari pos 5, kami bergegas mengayuh paddle untuk sampai ke titik finish pengarungan hari pertama, yaitu di Jembatan Cikembar dimana kami akan bermalam saat itu.

Setelah kami melihat jembatan tersebut, kami segera menepi kemudian melakukan pemetaan dan bersiap untuk mengangkat perahu naik ke tempat yang lebih aman. Untuk bivak malam ini, awalnya kami berencana untuk membangun tenda dan tidur di sana, akan tetapi setelah mengobrol dengan masyarakat setempat, syukurnya ada seorang warga bernama Bapak Fulan yang mempersilahkan kami untuk tinggal di rumahnya karena hanya 1 malam. Disana kami boleh menggunakan tempat, air, dan juga listrik. Semoga kebaikan bapak Fulan berbalas ya, Pak! Setelah itu kami membersihkan dan merapikan logistik yang dikoordinasikan oleh penanggungjawab logistik kami, Raska.

Setelah semua logistik sudah bersih dan tersimpan rapi, kami secara bergantian mandi di mushola dan masjid yang tersedia. Setelah semua sudah dalam keadaan bersih, kami pergi untuk bivak malam di warung atas. Menu malam itu cukup berbeda dari biasanya, dimana kami makan daging rendang dan sayur lode yang sangat lezat. Setelah bivoac malam, kami pun kembali ke rumah bapak Fulan untuk melakukan evaluasi. Hasil evaluasi hari ini fokus pada perizinan dimana belum ada surat tertulis yang tertuju ke provider di titik finish hari kedua nanti. Sisanya sudah berjalan sesuai rencana, walaupun ada beberapa obat yang keluar karena beberapa dari kami mengalami memar dan juga keram otot. Setelah evaluasi, untuk mengumpulkan tenaga kami kembali untuk menjalani hari esok, kami pun beristirahat. Hari dua – selesai

Hari 3

Pada hari ketiga ini kami bangun pukul 04.30 WIB untuk melakukan aktivitas masing-masing, ada yang sikat gigi, cuci muka, buang air, dan ada juga yang ibadah. Setelah Sholat shubuh yang saat itu pukul 04.40 WIB, kami pun berbagi tugas. Rana, Yumei, dan Ezra mengmbil sarapan di warung Bu Dedeh yang sudah dipesan sebelumnya. Akan tetapi, ketika kami tiba disana pukul 05.00 WIB, makanannya belum siap, alhasil kami pun harus menunggu cukup lama sampai makanannya siap dibawa ke rumah bapak Fulan, kemudian setelah makanan siap kita langsung bergegas membawanya ke mobil. Yumei menyetir, Rana membawa wadah telur dan tempe, dan Ezra harus menjaga sayur selama perjalanan agar sayurnya tidak tumpah. Tapi apadaya, tak ada gading yang tak retak, akhirnya ada juga kuah sayur yang tetap tumpah juga ke baju dan celananya, sehingga selama perjalanan menuju rumah bapak Fulan, Ezra beberapa kali mengeluh kepanasan. Lucy, Raska, Kenji menyicil persiapan logistik sembari menunggu makanan datang.

Kemudian setelah makanan siap disajikan di rumah Bapak Fulan, kami sarapan bersama dengan tim rescue serta tim darat. Setelah perut terisi, Rana dan Yumei membereskan peralatan makan dan  mengembalikannya ke warung Bu Dedeh, tetapi segerombolan soang datang menghampiri Rana menodong meminta makan, Rana pun terdiam dan meminta tolong kepada Yumei, tetapi Yumei bukannya membantu malah ikut menertawakan dengan yang lainnya karena ternyata Yumei juga takut dengan soangnya. Untunglah dari sisi lain Raska datang melempari soang-soang tersebut dengan batu,sehingga Rana terbebas dari sergapan soang yang kelaparan dan kembali bersama Yumei mengembalikan peralatan makan  ke warung  Bu Dedeh.

Setelah itu kami langsung bergegas untuk menyiapakan logistik pengarungan hari ke-tiga, seperti memindahkan perahu ke dekat sungai, mengisi drybag dan memastikan isinya sudah sesuai serta sweeping daerah sekitar rumah Bapak Fulan, walaupun nanti akan dilakukan double sweeping oleh tim darat. dan juga kami sekalian pamit ke Bapak Fulan untuk melanjutkan pengarungan. Setelah semua logistik dan awak siap untuk melakukan pengarungan, kami memulai untuk pemanasan yang dipimpin oleh Kenji, dan dilanjutkan berdoa yang dipimpin oleh Ezra juga tidak lupa untuk sesi foto bersama sebelum pengarungan dimulai.

Dengan perasaan bercampur aduk,antara senang, takut, dan cemas karena sungainya sedang surut, kami memulai pengarungan dari titik start Jembatan Cikembar dengan berharap arus masih bisa membawa perahu kami sampai finish, tidak perlu banyak lining apalagi portaging.

Walaupun perahu sering sekali nyangkut karena banyak bebatuan yang muncul di permukaan,sehingga kami harus naik turun perahu untuk membebaskan perahu dari bebatuan tersebut, kami masih bisa menikmati pengarungan dengan bahagia dan dengan semangat mengebu-gebu. Perjalanan kami hari ini ditemani soundtrack lagu Aladdin yang sedang hits-hitsnya di chart permusikan Indonesia maupun Internasional. ‘I Can Show You the World’ menjadi lantunan rutin setiap kali perahu nyangkut. ‘A Whole New World‘ menjadi sangat indah terdengar ketika melewati jeram-jeram yang menakjubkan, efek percikan air membuat seakan berada di negeri dongeng.

Sepanjang pengarugan kami di isi oleh canda tawa hangat, sesekali berhenti sambil perang air atau nyebur untuk sekedar menyegarkan badan karena cuaca yang panas serta tidak lupa untuk sambil membuat vlog ala-ala youtuber kekinian. Beberapa kali memergoki biawak yang sedang mencari makan, disuguhi air terjun-air terjun kecil yang sebenanya tidak pantas juga disebut air terjun karena terlalu kecil, ditakjubkan dengan batuan-batuan indah dengan berbagai jenis yang akhirnya kami menamakan bebatuan tersebut seperti batu cookies karena batunya mirip sekali cookies dengan chocochips, juga batu infinity, karena batu tersebut mengkilat seperti batu infinity milik Thanos dalam serial Avangers membuat pearungan ini menjadi mengasyikan.

Walaupun debit airnya sedang kecil tetapi kami masih bisa merasakan beberapa jeram, bahkan ada yang membuat perahu  rescue boat nge-wrap dan  salah satu yang paling mengesankan lagi adalah jeram yang setelahnya terdapat penyempitan yang hanya bisa dilewati satu perahu dengan posisi lurus, dimana diapit oleh bebatuan yang terukir sangat indah, yang dipahat oleh arus-arus sungai dan dirancang langsung oleh Yang Maha Indah. Di ujung penyempitan tersebut kami istirahat cukup lama, men-charge kembali energi setelah berlelah ria me-lining perahu. Setelah itu kami malanjutkan kembali pengarungan yang sisa sekitar sepertiga perjalanan lagi.

Setelah jam menunjukan pukul 13.00 WIB, kami mencari tempat untuk dilakukannya bivoac siang. Akhirnya kami berhenti di kanan sungai untuk melakukan bivoac siang, disini banyak orang yang sedang memancing. Kang Cecep dengan jiwa mancingnya pun sangat senang bercengkrama dengan para pemancing dan sangat excited melihat ikan-ikan yang berhasil ditangkap oleh pemancing yang ada disana.

Setelah kenyang, tentunya rasa kantuk pun mulai menyerang. Tanpa berlama-lama, kami segera melanjutkan kembali pengarungan,demi mencapai titik finish. Rasa kantuk itu hilang setelah bertemu kembali dengan beberapa jeram yang kali ini lebih ekstrem setelah pertemuan dengan sungai citatih, jeram-jeram terakhir yang membuat kami bergoyang, kali ini bukan bergoyang untuk membebaskan perahu karena tersangkut batu, tetapi bergoyang karena banyaknya standing wave.

Setelah sekitar 6 jam perjalanan kami pun akhirnya sampai di titik finish yaitu Jembatan Leuwilalai, bahagia karena akhirnya telah selesai pengarungan, kami pun melakukan sesi foto dengan Rai sang tim darat sebagai fotografer menggunakan spanduk perjalan.

Sesi foto selesai dan kami pun membawa logistik pengarungan ke tempat provider Riam Jeram dan membereskan logistik disana, Dengan sigap kami membersihkan perahu, mencuci pelampung, helm, paddle, rescue rope, dan webbing serta mendata semua logistik untuk memastikan kelengkapan dan kelayakannya, Selagi kami membersihkan logistik, tim rescue yaitu Kang Tovan, Kang Andaru, Kang Fithyan, Kang Cecep, dan Kang Ojo membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang karena memiliki kepentingan yang harus dilakukan keesokan harinya.

Kami pun terbagi menjadi 3 tim, ada yang tetap di tempat untuk keesokan harinya melakukan penelitian yaitu Lucy, Rana, Raska, dan kang Aldo sebagai mentor, ada yang mengantar tim rescue untuk pulang yaitu Ezra, Yumei, Kenji, dan juga Rai yang sekalian pulang ke rumahnya serta Wahyu dan Kang Ojo yang membawa logistik kembali ke Sendal.

Setelah dibersihkan dan dikeringkan, logistik langsung dimasukan ke dalam mobil Livina merah untuk dibawa pulang ke sandal oleh Wahyu dan Kang Ojo hari itu. Dan setelah bersiap-siap tim rescue pun pulang dengan mobil Innova hitam. Tak lupa kami pun berpamitan serta mengucapkan terimakasih karena telah menyempatkan waktunya untuk mandampingi kami selama pengarungan ini.

Sementara itu Lucy, Rana, dan Raska merapihkan dan membawa barang-barang yang tidak dibawa ke Sendal ke rumah pak Hamdan. Di rumah Pak Hamdan, kami melakukan bivoac malam sambil menonton televisi. Evaluasi untuk hari ketiga dan briefing untuk hari selanjutnya dilakukan esok hari, karena menunggu Ezra, Kenji, dan Yumei balik dari mengantar. Hari tiga-selesai.

Hari 4 – Penelitian Kesehatan

Hari keempat, hari dimana separuh beban kami berkurang. Pengarungan selama 2 hari sudah terlewati, tapi masih ada yang perlu dilalui, penelitian. Sebelum memulai petualangan kami di Puskesmas Warungkiara, kami pun menyantap sarapan yang sudah disediakan. Setelah makan kami pun segera menuju puskesmas pada pukul 07.30 WIB. Setelah sampai di Puskesmas, kami menghampiri terlebih dahulu senior AMP yang ada disana, serta Kepala Puskesmas untuk memastikan perizinan, dsb.

Setelah itu kami pun langsung menyebar di Puskesmas tersebut untuk mengambil data. Menggunakan kuisioner, kami pun mulai mewawancarai satu per satu pasien yang datang. Di sela-sela mewawancarai kami pun “mencuri” waktu untuk sejenak membeli susu kedelai dan menikmatinya. Tak terasa sudah siang, dan target jumlah responden kami pun sudah terpenuhi. Rasa syukur pun terucap dalam hati, leganya hari itu akan segera selesai.

Setelah itu pun kami beranjak untuk pamit kepada senior kami dan Kepala Puskesmas sekaligus menyampaikan rasa terimakasih. Lalu kami pun segera pergi untuk mencari makan siang. Masakan padang menjadi tujuan kami. Sepotong ayam gulai, rendang hingga kepala kakap menjadi menu kami kala itu. Begitu perut ini sudah “tak berbicara”, kami pun segera melanjutkan perjalanan hingga Sendal tercinta, dan alhamdulillah kami pun sampai dan menandakan Perjalanan ini telah usai.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *