Apa itu hipotermia? 

Mendaki tentu menyenangkan. Dalam perjalanannya, kita dapat menikmati keindahan alam, apalagi ketika sudah sampai di puncak. Namun, tidak jarang pendaki hilang dan ditemukan dalam keadaan sudah meninggal. Salah satu penyebabnya adalah hipotermia.1 Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh kurang dari 35°C. Tingkat keparahan hipotermia dibagi berdasarkan derajat suhunya, yaitu:2

  • Ringan, suhu di antara 35-32,3°C
  • Sedang, suhu di antara 32,2-28°C
  • Berat, suhu di bawah 28°C

Penurunan suhu tubuh terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih banyak daripada tubuh menghasilkan panas. Faktor yang memengaruhi hipotermia yaitu cuaca dingin. Begitupula dengan usia. Lansia dan anak-anak akan lebih berisiko mengalami hipotermia. 

Gejala hipotermia, apa saja? 

Gejala yang paling sering dialami saat hipotermia, yaitu:2

  1. Menggigil. Menggigil merupakan mekanisme pertahanan awal tubuh dalam menjaga suhu tetap hangat. 
  2. Denyut jantung menurun. Ketika tubuh dalam cuaca dingin, tubuh akan mengurangi pengeluaran panas salah satunya dengan vasokonstriksi (penyempitan aliran darah). Hal ini menyebabkan penurunan aliran darah sehingga denyut jantung pun menurun.
  3. Laju pernapasan menurun. Bernapas merupakan salah satu cara tubuh mengeluarkan panas. Saat kita bernapas, produk yang dihasilkan tidak hanya karbondioksida. Panas juga dihasilkan dan dikeluarkan dari tubuh. Untuk mengurangi pengeluaran panas, laju pernapasan akan menurun.

Apabila hipotermia tidak ditangani dengan cepat, dapat menyebabkan kematian (hipotermia letal).

Terminal-burrowing

Selain itu, terdapat gejala khusus yang ditemukan pada kasus-kasus hipotermia letal. Gejala ini mulai muncul pada korban hipotermia berat, yaitu suhu tubuh di bawah 28°C. Gejala tersebut merupakan perilaku terminal-burrowing.3 Korban dengan perilaku tersebut sering ditemukan seperti sedang bersembunyi. Peneliti menelaah kasus-kasus kematian yang ada pada tahun 1978 sampai 1994 bahwa korban dengan hasil autopsi hipotermia letal ditemukan bersembunyi dalam semak-semak, di bawah rak, dan di bawah tempat tidur.4 Dalam pendakian, kejadian hipotermia letal lebih sering ditemukan saat korban mendaki dibandingkan beristirahat. Selain itu, tidak terdapat perbedaan jumlah kasus hipotermia letal antara musim dingin dan panas.5 Sehingga, walaupun di negara beriklim tropis seperti Indonesia, tetap memungkinkan korbannya mengalami terminal-burrowing sebelum mengalami kematian.

Suhu di gunung beriklim tropis saat malam hari sekitar 6-10°C, bahkan bisa lebih rendah tergantung dari ketinggian gunung dan cuacanya.6 Suhu lingkungan yang dapat menyebabkan hipotermia berat (suhu tubuh di bawah 28°C), yaitu 40°F (4,4°C).1 Pendaki yang melakukan summit attack (perjalanan menuju puncak gunung setelah bermalam di pos tertentu) pada dini hari sangat berisiko mengalami hipotermia berat. Suhu lingkungan 70°F (21°C) pun dapat menyebabkan hipotermia berat apabila orang tersebut dalam keadaan basah, tidak menggunakan pakaian yang tebal, dan dalam pengaruh alkohol.1 Selain itu, terdapat perilaku korban yang terlihat berusaha melepaskan pakaiannya. Perilaku ini disebut paradoxical undressing.

Belum ada penjelasan pasti mengenai mekanisme perilaku tersebut. Namun, peneliti mengaitkan perilaku tersebut sama dengan perilaku hewan mamalia yang sedang hibernasi di musim dingin. Tujuan perilaku tersebut untuk meminimalisir hilangnya panas tubuh.3 Terdapat pula peneliti yang menyatakan bahwa perilaku terminal burrowing pada korban hipotermia letal merupakan suatu reaksi otonom dari batang otak yang dipicu oleh tingkat keparahan hipotermia yang menghasilkan perilaku perlindungan primitif seperti menggali dan kemudian bersembunyi.3 Perilaku tersebut yang menyebabkan sulitnya korban hipotermia di alam bebas ditemukan oleh tim penyelamat. Kematian dari korban hipotermia terjadi akibat kombinasi mekanisme seperti henti jantung yang diperburuk oleh hipoksia (rendahnya oksigen di jaringan).

Lalu, bagaimana pencegahan dan penanganannya?

Risiko hipotermia dapat dicegah dengan menggunakan pakaian hangat dan juga kering. Pastikan juga sebelum berkegiatan, tubuh dalam keadaan sudah makan. Lalu, untuk penangannya kita dapat mendekatkan korban ke sumber panas (api unggun), menghangatkan tubuh dengan emergency blanket, memberikan minuman hangat (hindari alkohol), dan meletakkan botol hangat kepada lipatan tubuh korban. (lipatan paha, leher, atau ketiak).

Daftar Pustaka

  1. Auerbach, P. S. (2016). Injuries and Illness due to Cold. In Medicine for the outdoors: The essential guide to first aid and medical emergencies (pp. 281-287). Philadelphia, PA: Elsevier.
  2. Hall, J. (2015). Body Temperature Regulation and Fever. In Guyton and Hall textbook of medical physiology (pp. 911-914). Elsevier.
  3. Rothschild, M. A., & Schneider, V. (1995). “Terminal burrowing behaviour” -a phenomenon of lethal hypothermia. International Journal of Legal Medicine, 107(5), 250–256. https://doi.org/10.1007/BF01245483
  4. Byard, R. W., & Bright, F. M. (2018). Lethal hypothermia – a sometimes elusive diagnosis. Forensic Science, Medicine, and Pathology, 14(4), 421–423. https://doi.org/10.1007/s12024-017-9916-z 
  5. Procter, E., Brugger, H., & Burtscher, M. (2018). Accidental hypothermia in recreational activities in the mountains: A narrative review. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports28(12), 2464–2472. https://doi.org/10.1111/sms.13294
  6. Pancel, L., & Köhl, M. (2019). Tropical Forestry Handbook. Springer Berlin Heidelberg. 
  • Penulis: Nanda Assyifa Apriliana (AM 25047)
  • Editor: Astri Shafirah (AM 25009)

2 thoughts to “Terminal-burrowing Penyebab Pendaki Hilang Sulit Ditemukan

  • Lies Marlysa Ramali

    Bagus, ditunggu lanjutannya…

    Reply
    • AMP

      Baik, mangga di-share, Dok. Hatur nuhun, Dokter🙏

      Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *