Apa itu stroke?

Stroke adalah salah satu penyebab kematian kedua dan penyebab disabilitas tertinggi di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda-tanda klinis berupa gangguan sistem saraf pada satu sisi tubuh yang dapat memberat dan berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian.1, 2

Bagaimana gejala stroke?

Gejala yang ditimbulkan dari stroke biasanya hanya memengaruhi satu sisi tubuh seperti tidak mampu menggerakkan tangan kanan dan atau kaki kanan saja. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) membuat sebuah slogan terkait tips mudah mengenali gejala dan tanda-tanda stroke yang dikenal sebagai “Se-Ge-Ra-Ke-R-S”.1 Slogan tersebut adalah kepanjangan dari:

  • Senyum tidak simetris
  • Gerakan kaki dan tangan tidak simetris
  • Bicara menjadi pelo/sulit bicara/bicara tidak nyambung/tidak mengerti kata-kata
  • Kebas/baal satu sisi tubuh
  • Rabun /gangguan penglihatan
  • Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba & tidak pernah dirasakan sebelumnya, gangguan fungsi keseimbangan, gerakan sulit dikoordinasi.

foto pasien stroke dengan senyum tidak simetris

Bagaimana stroke dapat terjadi?

Berdasarkan penyebabnya, stroke dibagi menjadi hemoragik dan iskemik.2 

  • Stroke iskemik: disebabkan adanya bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak bagian tertentu.2
  • Stroke hemoragik: disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak yang mengakibatkan pendarahan di otak.1,2
Gejala Stroke Ringan, Hemoragik, Iskemik: Gejala dan Pencegahan Stroke  Ringan,Hemoragik,Iskemik
foto ilustrasi keadaan pembuluh darah pada stoke hemoragik (kiri) dan iskemik (kanan)

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling sering terjadi. Sekitar 87% penderita stroke adalah jenis iskemik.2,3 Stroke iskemik dibagi lagi berdasarkan penyebabnya, yaitu:3

  • Trombotik (atherosclerotic): bekuan darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah otak secara langsung
  • Embolik: bekuan darah terbawa dari bagian tubuh lain ke otak dan menyumbat pembuluh darah otak.
Seseorang akan lebih rentan mengalami stroke iskemik apabila dia mempunyai faktor risiko sebagai berikut:1
  • Riwayat penyakit hipertensi, 
  • Lemak darah berlebih, 
  • Penyakit jantung bawaan, 
  • Aritmia, 
  • Diabetes, 
  • Merokok, 
  • Usia lanjut, 
  • Jenis kelamin wanita, dan lain-lain.

Bagaimana penanganan stroke?

Tata laksana stroke utamanya berfokus untuk mengembalikan aliran darah ke otak dan meminimalkan efek dari kerusakan otak.4 Penanganan yang diberikan akan efektif jika stroke didiagnosis kurang dari 4,5 jam setelah gejala pertama muncul. Apabila seseorang diduga terserang stroke, harus langsung dibawa ke unit gawat darurat (UGD) rumah sakit agar segera ditangani secara medis dengan tepat.1 

Semakin cepat mendapat pengobatan, penderita stroke dapat tertolong dan mengurangi risiko kematian atau kecacatan permanen.

– Kemenkes RI.1

Tahukah kamu apa itu ‘Cuci Otak’ pada stroke iskemik?

Dalam penanganan stroke pada umumnya, dokter akan memberikan obat seperti aktivator plasminogen jaringan (tPA) intravena (melalui selang infus) yang merupakan obat trombolitik atau obat yang melarutkan gumpalan darah dan bekuan darah.5 Biasanya pemberian obat-obatan tersebut adalah secara intravena, melalui pembuluh darah balik.

Di tahun 2016, seorang dokter yang bernama Terawan Agus Putranto memperkenalkan metode pengobatan stroke yang masih belum umum untuk digunakan, pada penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal. Metode tersebut terkenal dengan istilah “cuci otak”. Pengobatan ini menggunakan alat, yaitu digital subtraction angiography (DSA) yang dimodifikasi dengan intra arterial heparin flushing (IAHF).6 

foto mesin untuk DSA10 Digital Subtraction Angiography Machine.

Foto hasil gambaran DSA pasien stroke iskemik dengan penyumbatan pada pembuluh darah otak.11 

Foto hasil gambaran DSA pasien stroke hemoragik dengan aneurisma otak atau pelebaran pembuluh darah otak.12

IAHF atau yang dikenal dengan istilah “cuci otak” adalah metode pengobatan stroke dimana pembuluh darah yang tersumbat diberikan obat anti penggumpalan darah yaitu heparin.7 Heparin adalah obat antikoagulan, yang berfungsi mengatasi penggumpalan darah (koagulasi). Obat ini dapat “mengencerkan” gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak, sebagaimana terjadi pada stroke iskemik. Beberapa penelitian menunjukan bahwa selain menjadi anti penggumpalan darah, heparin juga bekerja sebagai agen trombolitik atau penghancur bekuan darah.8 

Dari artikel penelitian yang dibuat oleh Dokter Terawan, didapati bahwa metode “cuci otak” ini terbukti dapat meningkatkan aliran darah ke otak serta menguatkan otot penderita stroke iskemik kronik.6 Artikel tersebut menunjukan bahwa metode “cuci otak” atau intra arterial heparin flushing (IAHF) berpotensi untuk menjadi metode pengobatan stroke, namun masih perlu pengembangan lebih lanjut.6, 7, 9

Metode “cuci otak” ini sebenarnya sudah digunakan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD).6 Seringkali kita dengar bahwa pengobatan tersebut menuai kontroversi dan perlu pembuktian lebih lanjut. Dokter Terawan pun pernah terlibat kasus pelanggaran kode etik kedokteran Indonesia pasal 4 dan pasal 6 yaitu tentang perbuatan memuji diri.


Sebagai masyarakat, kita memiliki kebebasan untuk memilih pengobatan yang ada. Ada berbagai macam metode pengobatan untuk stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Metode “cuci otak” adalah salah satu dari sekian pengobatan stroke iskemik. Pastikan kita sebagai pasien atau wali pasien sudah menyetujui pilihan yang dikemukakan dokter. Jangan lupa, stroke secara umum adalah kegawatdaruratan, sehingga sebaiknya pertimbangkan juga keputusan terbaik dari segi waktu.


  • Penulis: Daniel Satya Wicaksana (AM 25016)
  • Editor: Astrid Alma N. A. (AM 25010), Nadya Auliarahma Samiadji (AMP 2418019 NW)

Daftar Pustaka

  1. Kemenkes RI. Stroke Don’t Be The One. 2018. P. 10.
  2. Wittenauer BR, Smith L. Priority Medicines for Europe and the World ” A Public Health Approach to Innovation ” Update on 2004 Background Paper Written by Eduardo Sabaté and Sunil Wimalaratna Background Paper 6 . 6 Ischaemic and Haemorrhagic Stroke. Who. 2012;(December).
  3. Laily SR. Hubungan karakteristik penderita dan hipertensi dengan kejadian stroke iskemik. 2017;(December 2016):48–59.
  4. Herpich F, Rincon F. Management of Acute Ischemic Stroke. Crit Care Med. 2020;48(11):1654-1663.
  5. American Heart Association. Current Treatment Approaches for Acute Ischemic Stroke. 2015.
  6. Putranto TA, Yusuf I, Murtala B, Wijaya A. Intra Arterial Heparin Flushing Increases Cereberal Blood Flow in Chronic Ischemic Stroke Patients. Indones Biomed J. 2016;8(2):119. 
  7. Putranto TA, Ratmono T, Yusuf I, Murtala B, Wijaya A. Intraarterial heparin flushing effect on motor evoked potentials in chronic ischemic stroke patients. Bali Med J. 2019;8(2):540.
  8. Eisenberg PR. Role of heparin in coronary thrombolysis. Chest. 1992;101(4 SUPPL.):131S-139S.
  9. Putranto TA, Yusuf I, Murtala B, Wijaya A. Intra Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient. Bali Med J. 2016;5(2):25.
  10. Khan Sharier. Second Life: A Miracle of advanced Medical Science. The Daily Star. 2015. [Internet. Dikutip pada 5 Juli 2021. Tersedia di https://www.thedailystar.net/science/medical-research/second-life-miracle-advanced-medical-science-2662 ]
  11. Rizvi A, Williamson EE, Doyle KM. Acute ischemic stroke secondary to cardiac embolus of a ‘foreign body’ material after a redo sternotomy for mitral valve replacement: A case report. 2018;(April 2020).
  12. Kim EY, Na DG, Kim SS, Lee KH, Ryoo JW, Kim HK. Prediction of hemorrhagic transformation in acute ischemic stroke: role of diffusion-weighted imaging and early parenchymal enhancement. AJNR Am J Neuroradiol. 2005 May. 26(5):1050-5. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *