Isolasi Mandiri atau Isoman merupakan suatu kegiatan yang berfungsi untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 atau yang sering dikenal dengan virus corona. Isolasi dilakukan oleh orang yang terkonfirmasi mengidap COVID-19 baik yang bergejala maupun tidak bergejala/asimtomatik.1

Terdapat pula istilah karantina/quarantine yaitu tindakan yang dilakukan oleh orang yang terpapar COVID-19, baik dari riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19 maupun riwayat bepergian.2,3 (cek artikel panduan karantina)

Isolasi mandiri diperuntukkan untuk orang yang memiliki gejala ringan atau tidak bergejala, sedangkan untuk penderita COVID-19 gejala sedang hingga berat, isolasi dilakukan di rumah sakit/rumah sakit rujukan.4

Siapa yang harus Isoman?

Berdasarkan Pedoman Tatalaksana COVID-19 yang dikeluarkan oleh 5 Organisasi Profesi Dokter, seseorang harus melakukan isolasi mandiri apabila terkonfirmasi mengalami COVID-19 yang dibuktikan oleh hasil RT-PCR positif atau hasil rapid test antigen SARS-CoV-2 positif.4

  1. Pasien konfirmasi COVID-19 yang tidak mengalami gejala/asimtomatik
  2. Pasien konfirmasi COVID-19 dengan gejala ringan, seperti:
    • Sakit kepala
    • Sakit tenggorokan
    • Pilek
    • Demam
    • Batuk (umumnya batuk kering ringan)
    • Fatigue/rasa lelah
    • Anoreksia atau penurunan berat badan drastis
    • Kehilangan indra penciuman/anosmia
    • Kehilangan indra pengecap/ageusia
    • Mialgia (nyeri otot) dan nyeri tulang
    • Mual, muntah, dan nyeri perut
    • Diare
    • Radang pada daerah mata
    • Kemerahan pada kulit/perubahan warna pada jari-jari kaki

Apa saja yang harus diperhatikan selama isoman?

Saat melakukan isolasi mandiri, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dari segi pribadi, lingkungan, dan keluarga, yaitu:

1. Pribadi 

Untuk pribadi yang melakukan isoman, hal yang harus dilakukan dan diperhatikan selama menjalani isoman adalah:

  • Memakai masker saat keluar kamar.
  • Menjaga jarak minimal 1 meter dengan keluarga.
  • Tidur di kamar pribadi yang terpisah dengan anggota keluarga lain.
  • Menerapkan etika batuk dengan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau dengan menutup hidung serta mulut dengan lengan dalam.
  • Alat makan minum harus segera dicuci setelah digunakan.
  • Pakaian yang telah dipakai sebaiknya masukkan dalam kantong plastik/wadah tertutup sebelum dicuci dan segera dimasukkan mesin cuci.
  • Apabila terjadi peningkatan suhu tubuh > 38℃, segera beritahukan kepada keluarga atau petugas pemantau/petugas Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
2. Lingkungan/kamar: 

Hal yang harus diperhatikan pada lingkungan atau kamar tempat melakukan isoman adalah:

  • Perhatikan ventilasi, cahaya dan udara.
  • Rutin membuka jendela kamar dan rumah untuk meningkatkan sirkulasi udara.
  • Kenakan APD (masker dan goggles) saat membersihkan kamar.
  • Bersihkan kamar setiap hari, bisa dengan menggunakan air sabun atau bahan disinfektan lainnya.
  • Bersihkan sesering mungkin area yang mungkin tersentuh pasien, seperti gagang pintu atau area lain.
3. Keluarga

Bagi keluarga yang tinggal bersama dengan pasien, hal yang harus diperhatikan dan dilakukan selama pasien menjalani isoman adalah:

  • Kontak erat sebaiknya juga memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  • Memakai masker.
  • Sering mencuci tangan dengan air dan sabun.
  • Jangan sentuh daerah wajah apabila tidak yakin bahwa tangan bersih.

Bagaimana cara menjaga kesehatan selama isoman?

Saat melakukan isoman, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan, yaitu:

1. Periksa suhu tubuh setiap pagi dan sore dengan menggunakan termometer.
2. Periksa saturasi oksigen dan denyut nadi.

Saturasi oksigen dapat diukur dengan menggunakan alat oximeter. Masukkan jari ke dalam oximeter kemudian nyalakan oximeter lalu baca hasil dalam persen (%SpO2) yang tertulis pada oximeter. Apabila saturasi menurun hingga di bawah 93%, segera hubungi fasilitas kesehatan.

Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan secara manual dengan jari kita ataupun secara otomatis dengan pulse oximeter.

Hitung denyut nadi secara manual dengan menekan dua jari (telunjuk dan jari tengah) pada pembuluh nadi selama 60 detik. Denyut nadi yang normal pada orang dewasa berkisar antara 60–100×/menit. Penekanan dua jari ini bisa dilakukan dengan mudah di tangan maupun leher, dengan cara berikut:

  • tekankan jari telunjuk dan jari tengah salah satu tangan di pergelangan tangan yang berlawanan (contoh: jari tangan kanan menekan pergelangan tangan kiri), tepat di bawah pangkal ibu jari/jempol
  • tekankan jari telunjuk dan jari tengah pada salah satu sisi leher, tepat di bawah tulang rahang.

Ketika kita menghitung denyut nadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memperoleh hasil yang akurat, yaitu:

  • Jangan mengukur denyut nadi dalam satu hingga dua jam setelah berolahraga karena detak jantung kita dapat tetap tinggi setelah suatu aktivitas berat.
  • Hindari mengonsumsi kafein satu jam sebelum melakukan pengukuran denyut nadi karena dapat meningkatkan detak jantung.
  • Jangan menghitung denyut nadi setelah duduk atau berdiri untuk waktu yang lama, karena dapat mempengaruhi detak jantung kita.
3. Memantau laju pernapasan diri sendiri.

Laju pernapasan dapat diukur ketika kita sedang istirahat dengan cara menghitung jumlah napas selama satu menit dengan menghitung berapa kali dada naik. Laju napas yang normal pada orang dewasa berkisar antara 12–20×/menit. Apabila laju napas meningkat hingga >30 ×/menit, waspadai tanda pneumonia seperti yang tercantum di bawah.

4. Menjaga nutrisi dan aktivitas fisik
  • Mengonsumsi makanan yang bergizi dan mengonsumsi suplemen (vitamin C, vitamin D, Zinc, atau sesuai anjuran dokter) secara teratur.
  • Berjemur sekitar 10–15 menit pada waktu sebelum jam 9 pagi dan setelah jam 3 sore.
  • Berolahraga minimal 30 menit secara rutin 3–5 kali seminggu.
Apa saja tanda klinis pneumonia yang harus diwaspadai?

WASPADAI apabila selama dilakukan isoman muncul tanda klinis pneumonia berupa:

  • Demam, batuk, sesak, dan napas cepat yang disertai satu dari gejala berikut:
    • Laju nafas >30×/menit
    • distres pernafasan berat
    • saturasi oksigen <93% 

Berapa lama seseorang harus melakukan isolasi mandiri?

Untuk pasien yang terkonfirmasi COVID-19, tetapi tidak menunjukkan gejala apapun atau asimtomatik, isolasi dinyatakan selesai setelah 10 hari sejak pemeriksaan diagnosis yang menyatakan bahwa pasien terkonfirmasi mengalami COVID-19. Untuk pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan gejala ringan dan sedang, isolasi dilakukan selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah dengan sekurang-kurangnya 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan.3 Sehingga, untuk kasus-kasus yang mengalami gejala selama 10 hari atau kurang harus menjalani isolasi selama 13 hari. Berikut merupakan contoh perhitungan waktu isoman pada pasien bergejala:4

  • Jika seorang pasien memiliki gejala selama 2 hari, maka pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah 10 hari + 3 hari = 13 hari dari tanggal pertama kali muncul gejala atau onset gejala  
  • Jika seorang pasien dengan gejala selama 14 hari, maka pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah 14 hari + 3 hari = 17 hari setelah tanggal pertama kali onset gejala  
  • Jika seorang pasien dengan gejala selama 30 hari, maka pasien dapat keluar ruang isolasi setelah 30 hari + 3 hari = 33 hari setelah tanggal pertama kali onset gejala

Bagaimana dengan pasien dengan gejala sedang dan berat?

Untuk pasien dengan gejala sedang hingga berat atau memiliki komorbid/penyakit penyerta, isolasi dilakukan di rumah sakit. 

  • Pasien dengan gejala sedang
    • Pasien dengan tanda klinis pneumonia, tetapi memiliki kadar saturasi oksigen yang masih sama dengan atau di atas 93%
  • Pasien dengan gejala berat
    • Pasien dengan tanda klinis pneumonia dengan kadar saturasi oksigen di bawah 93%
  • Pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta seperti:7
    • Diabetes Mellitus/Kencing manis
    • Penyakit terkait usia lanjut
    • Penyakit terkait autoimun 
    • Penyakit ginjal 
    • Serangan jantung
    • Hipertensi/Darah tinggi
    • Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) 
    • Tuberkulosis (TBC)
    • Penyakit kronis lain yang diperberat oleh kondisi penyakit COVID-19

  • Penulis: Nathanael Kurniadi (AM 25049)
  • Editor: Farah Afifah (AM 25025), Nadya Auliarahma Samiadji (AMP 2418019 NW)

Daftar Pustaka:

  1. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. (2021). Buku Panduan Isolasi Mandiri.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). When You Can be Around Others After You Had or Likely Had COVID-19. 2019–2021. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/if-you-are-sick/end-home-isolation.html
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 Tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, Dan Isolasi Dalam Rangka Percepatan Pencegahan Dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) Dengan. KMK/ Nomor HK ,01,07/MENKES/4641/2021, 169(4), 308–311.
  4. PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, & IDAI. (2020). Pedoman tatalaksana COVID-19 Edisi 3 Desember 2020. In Pedoman Tatalaksana COVID-19. https://www.papdi.or.id/download/983-pedoman-tatalaksana-covid-19-edisi-3-desember-2020
  5. Erythema multiforme in time of COVID-19. (2020). In European Journal of Pediatric Dermatology; Vol 30 No 2 (2020)DO  – 10.26326/2281-9649.30.2.2106 . https://www.ejpd.com/journal/index.php/EJPD/article/view/2106
  6. The Association of Podiatric Medicine (Singapore). (2021). Patient Care During COVID-19. https://apm.org.sg/covid-patient-care/
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman dan Pencegahan Coronavirus (COVID- 19). 

One thought to “Panduan Isolasi Mandiri”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *