Vaksin merupakan salah satu metode pencegahan infeksi atau penyakit menular.1 Tujuan dari vaksin yaitu untuk menciptakan respon imun atau kekebalan tubuh sehingga dapat mempertahankan diri dari keadaan infeksi. Salah satunya adalah untuk melawan infeksi virus corona yang menyebabkan pandemi COVID-19 saat ini.1-5 Vaksin memiliki sifat biologis, yaitu disesuaikan dengan organisme yang menginfeksi. Berbeda dengan obat yang bersifat kimiawi.

Bagaimana cara vaksin bekerja?

Vaksin dibuat menjadi beberapa cara. Ada yang  organismenya (makhluk penyebab penyakit seperti bakteri atau virus) dimatikan, dilemahkan, ataupun strukturnya disusun ulang. Setelah vaksin dibuat, organisme tersebut akan dikenalkan ke dalam tubuh manusia. Proses pengenalan organisme ke tubuh dilakukan dengan cara disuntikkan seperti pemberian vaksin COVID-19 atau dikonsumsi seperti obat seperti vaksin polio ketika masih balita.1

Proses pengenalan ini selanjutnya akan direspon oleh tubuh sehingga tubuh akan memproduksi antibodi sebagai sistem kekebalan tubuh terhadap organisme yang dimasukkan sebelumnya. Sistem kekebalan tubuh yang terbentuk tersebut bersifat spesifik terhadap organisme yang dimasukkan, jika organisme yang dilemahkannya virus corona maka tubuh akan membentuk sistem kekebalan tubuh spesifik terhadap infeksi virus corona.2,3

Antibodi ini bekerja dengan mengingat suatu organisme yang sudah dimatikan, dilemahkan, ataupun strukturnya disusun ulang melalui vaksin. Hal ini menyebabkan ketika organisme tersebut masuk kembali, tubuh dapat melawan dengan lebih cepat dan lebih kuat sehingga gejala yang ditimbulkan lebih ringan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali.2,3 Misalnya, seseorang sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19, maka ketika orang tersebut terpapar virus corona, gejala yang ditimbulkan kemungkinan hanya batuk dan demam tidak sampai sesak napas.

Apakah vaksin bisa untuk semua individu?

Di masa pandemi COVID-19, masyarakat diharapkan dapat ikut andil dalam memperbaiki kondisi pandemi COVID-19 ini, salah satunya adalah dengan melakukan vaksinasi. Dengan melakukan vaksinasi baik perorangan maupun kelompok, sistem kekebalan tubuh akan terbentuk sehingga lebih kuat dalam melawan infeksi atau paparan virus corona.2-5 Selain itu, vaksinasi dalam masyarakat dapat meningkatkan sistem kekebalan berkelompok sehingga kemungkinan seseorang terinfeksi di dalam kelompok atau masyarakat (dalam ruang lingkup keluarga, rukun tetangga, dan rukun warga; dalam skala kecil) lebih kecil.1 

Adapun upaya pemerintah dalam mencapai target vaksinasi ini adalah melalui program vaksinasi di pusat pelayanan kesehatan masyarakat (Puskesmas), desa, rumah sakit, dan unit pelayanan kesehatan di kantor kesehatan pelabuhan.

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa kriteria yang perlu dipenuhi oleh individu jika ingin melakukan vaksinasi COVID-19, diantaranya:2-6 

1. Tidak dalam kondisi sakit.

Pada keadaan sakit, sistem kekebalan tubuh tidak mampu untuk membentuk kekebalan tubuh spesifik terhadap virus corona karena kerja sistem sedang ditekan untuk memperbaiki keadaan yang sakit. Adapun keadaan lain yang mungkin terjadi adalah orang yang sakit tersebut terinfeksi oleh virus corona karena ketidakberdayaan sistem tubuhnya untuk melawan organisme, meskipun bagian organisme yang dimasukkan dalam keadaan yang lemah.

2. Tidak memiliki penyakit penyerta.

Pada orang dengan riwayat penyakit penyerta, proses vaksinasi sebetulnya dapat dilakukan dengan syarat berkonsultasi terlebih dahulu kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang biasa dikunjungi untuk berobat dan melakukan pemantauan. Misal, terdapat orang yang memiliki riwayat jantung dapat mengunjungi dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang biasa dikunjungi. Untuk orang dengan riwayat penyakit ginjal kronik dapat mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi. Hal ini bertujuan agar dokter dapat melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menurunkan potensi terjadinya efek samping setelah vaksinasi dilakukan.

3. Tidak memiliki riwayat autoimun.

Sama seperti orang yang memiliki penyerta, orang yang memiliki riwayat autoimun harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu kepada (DPJP) yang biasa dikunjungi untuk berobat dan melakukan pemantauan seperti dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi-imunologi.

4. Bukan penderita COVID-19.

Pada penderita COVID-19, vaksin tidak diberikan karena tubuh orang tersebut sedang dalam proses produksi sistem kekebalan imun spesifik terhadap virus COVID-19 sehingga pemberian vaksin tidak akan berdampak apa-apa. Oleh karena itu, lebih baik diberikannya setelah pasien itu sembuh dari COVID-19 minimal 3 bulan bebas gejala  dan tidak kontak erat dengan pasien COVID-19. 

5. Untuk wanita hamil, yang bisa mengikuti vaksin adalah yang sudah melewati trimester pertama.

Pemberian vaksinasi dosis pertama diberikan setelah trimester 1, yaitu diatas 13 minggu. Hal ini dikarenakan trimester 1 merupakan fase pembentukan sistem persarafan janin sehingga menjadi periode yang berisiko terjadi kelainan. Untuk dosis kedua dilakukan sebelum memasuki aterm, yaitu siap melahirkan (29-36 minggu). 

Apa saja efek samping vaksin COVID-19?

Saat ini, vaksin COVID-19 terbukti aman setelah uji klinis yang dilakukan oleh BPOM dan digolongkan sebagai emergency use of authorization (EUA). Namun, meskipun sudah aman secara uji klinis, vaksinasi pada beberapa individu terkadang menimbulkan efek samping. Efek samping ini bisa terjadi pada vaksin lain tidak hanya pada vaksin COVID-19 saja.5

Umumnya hal ini terjadi pada orang tertentu yang tidak dapat mentoleransi organisme yang dimodifikasi atau bahan lain seperti pengawet pada vaksin sehingga menimbulkan efek samping, baik ringan yang umum terjadi maupun sedang dan berat yang jarang terjadi. Hal ini tak umum terjadi pada masyarakat luas dan biasanya hanya pada sedikit orang dalam populasi besar.Oleh karena itu, dalam tahapan vaksinasi terdapat skrining terlebih dahulu oleh tenaga medis yang kompeten (minimal dokter).2-5

Hal tersebut dilakukan untuk menurunkan kemungkinan efek samping yang timbul setelah vaksinasi dilakukan. Selain skrining, terdapat tindakan lanjutan, yaitu pemantauan pasca vaksinasi (setidaknya 30 menit).4,5 Efek samping dari vaksin COVID-19 umumnya ringan dan hanya sementara tergantung individu yang menerima vaksin tersebut. Efek samping ringan yang dapat muncul, diantaranya demam, nyeri otot, dan ruam pada bekas suntikan. Efek samping sedang hingga berat merupakan reaksi anafilaksis yang merupakan reaksi alergi hingga terjadi sesak napas atau biduran seluruh tubuh. Namun, reaksi anafilaksis ini bukan reaksi yang umum terjadi.7 


Lalu, akankah tubuh kebal terhadap COVID-19 setelah vaksin COVID-19? 

Vaksin tidak mengenal secara utuh virus corona yang menyebabkan COVID-19 ke dalam tubuh. Hal ini menyebabkan tidak ada antibodi (atau sistem kekebalan tubuh) yang sangat tepat untuk melawan infeksi virus corona sehingga walaupun sudah divaksin bukan berati tubuh kebal terhadap COVID-19. Tubuh tetap dapat terinfeksi, namun dengan tanpa gejala atau gejala ringan. 

Lalu apakah masih perlu untuk melakukan 5M? 

Seperti yang dijelaskan di atas walaupun divaksin bukan berati tubuh kebal. Kita tetap dapat terinfeksi. Selain itu, walaupun kita sudah divaksin, orang sekitar kita belum tentu divaksin. Oleh karena itu, proses pencegahan dengan 5M: (1) mencuci tangan dengan sabun, (2) memakai masker, (3) menjaga jarak, (4) menjauhi kerumunan, dan (5) mengurangi mobilitas tetap wajib untuk dilakukan.2,3,5

Apa saja vaksin yang digunakan di Indonesia?

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan, terdapat beberapa jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, yaitu: vaksin yang diproduksi oleh PT. Biofarma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax Inc., Pfizer Inc., dan Sinovac. Vaksin-vaksin tersebut sudah melewati uji klinis tahap 3 yang secara tidak langsung dapat dikatakan aman, namun dalam penggunaan dalam negeri tetap diperlukan keterlibatan BPOM dalam menetapkan izin edar dan penggunaannya.4,5 Dalam penggunaannya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tidak merekomendasikan salah satu jenis vaksin digunakan secara dominan. Namun, dalam melaksanakan vaksinasi tetap perlu dipertimbangkan keamanan dan keefektifan vaksin, serta perlu untuk mengurangi risiko terhadap penyakit berat. Jika seseorang mengalami reaksi alergi parah terhadap suatu jenis vaksin, maka orang tersebut tidak diperbolehkan untuk mendapatkan dosis berikutnya dari vaksin tersebut dan sebagai alternatif diberikan vaksin COVID-19 jenis lainnya.3 Interval pemberian dosis vaksin kedua direkomendasikan dalam rentang waktu 3 sampai 4 minggu, bergantung pada vaksin yang digunakan, dengan waktu maksimal pemberian vaksin dosis kedua adalah 6 minggu (42 hari) setelah pemberian dosis pertama.4

Dari segi kehalalan, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sudah menetapkan bahwa vaksin COVID-19 yang produksi Sinovac Lifescience Co. sudah halal, sertifikasi diajukan oleh PT. Biofarma. Untuk kehalalan vaksin lainnya, pemerintah dan produsen farmasi masih melakukan pengujian. Dengan memperhatikan hal tersebut, produsen vaksin COVID-19 berkomitmen untuk mengikuti standar halal dan mengikuti mekanisme sertifikasi halal yang berlaku di Indonesia dalam pengadaan vaksin COVID-19.5


  • Penulis: Muhamad Bagja Ramadhan (AM 25041)
  • Editor: Farah Afifah Pulungan (AM 25025), Astri Shafirah (AM 25009), Nadya Auliarahma Samiadji (AMP 2418019 NW)

Daftar Pustaka:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Buku Saku Infovaksin.
  1. World Health Organization. (n.d.). Coronavirus disease (COVID-19): Vaccines. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/coronavirus-disease-(covid-19)-vaccines?adgroupsurvey=%7Badgroupsurvey%7D&gclid=CjwKCAjwo4mIBhBsEiwAKgzXOOViDWVkTFZYSlFfh1Ham937PIhb73Ql3K_B1ptqV8qgJkn_3Beu7hoCF_gQAvD_BwE.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). Different covid-19 vaccines. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/different-vaccines.html
  3. Kemenkes RI. (2021). Pmk No 10 Tahun 2021 tentang PELAKSANAAN VAKSINASI DALAM RANGKA PENANGGULANGAN PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19). Permenkes RI, 2019, 33. Retrieved from https://persi.or.id/wp-content/uploads/2021/02/pmk10-2021.pdf
  4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Seputar Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19.
  5. Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia. (2021). Panduan dan Petunjuk Teknis Singkat Pogi Tentang Covid-19.
  6. World Health Organization. (n.d.). Side effects of covid-19 vaccines. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/side-effects-of-covid-19-vaccines.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *